"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Monday, December 10, 2012

Ellisa (3)



Tidurlah, Ellisa, selembut kesadaranmu yang beranjak padam seremang demi seremang.
Mimpikan aku dengan kerenggangan hati yang leluasa menafsir makna cinta.

Aku mencintaimu sebagai simpulan akhir dan mufakat kekal ketulusanku.

Aku hanya ingin mencintaimu dengan rumus kekekalan yang paling sederhana,
di mana kau dan aku tidak terbagi dan tidak terpecahkan.

Setiap sepi bernilai satu tusukan batin.
Cinta adalah hasrat yang berlangsung di antara kedipan dan belalak dua mata angin: (1) bahagia; atau (2) celaka.

Jika aku memimpikanmu, mungkin itu kebetulan.
Tapi jika aku mencintaimu, mungkin itu kebenaran.

Ada kalanya rasa cinta telah usang namun tak terabaikan.

Medan, 10 Desember 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com