"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Saturday, January 14, 2012

Pelajaran Hidup dari Seekor Burung



Alkisah, ada seekor burung yang sangat terkenal karena kecepatan terbangnya. Kecepatannya ini begitu memukau seluruh rakyat kota karena nyaris tidak ada seorang pemburu pun yang dapat menangkapnya, sehingga burung ini tetap dapat hidup bebas di alam. Hingga suatu hari, isu tentang ketenaran burung ini pun sampai pada telinga raja, sehingga membuat raja penasaran, seberapa hebat burung ini sebenarnya hingga mampu membuat orang-orang begitu heboh membicarakannya.

Dengan strategi khusus yang dirancang oleh para pemburu profesional dari kerajaan, raja pun memerintahkan mereka untuk menangkap burung ini hidup-hidup, tanpa ada yang boleh melukainya, apalagi sampai membunuhnya. Tujuan raja adalah ingin menguji kebenaran isu yang beredar di masyarakat, apakah kemampuan burung ini memang sesuai dengan penilaian orang selama ini.

Dalam prosesnya, ternyata untuk menangkap burung ini tidaklah sesulit yang dibayangkan oleh tim pemburu kerajaan tersebut. Dalam waktu singkat, burung ini pun berhasil ditangkap dengan selamat dan dikurung dalam sebuah sangkar berlapis emas yang telah disiapkan. Para pemburu ini pun merasa bangga karena tentunya hasil jerih payah mereka akan diganjar dengan hadiah besar oleh raja. Namun mereka tidak tahu, bahwa sebetulnya dengan kecepatan yang dimiliki, burung itu bisa saja dengan mudah lolos dari sergapan para pemburu itu. Burung itu memang sengaja membiarkan dirinya ditangkap agar ia bisa masuk ke dalam kerajaan dan bertemu dengan raja yang ingin mengujinya.

Celakanya, dengan tertangkapnya burung ini, masyarakat pun mulai bergunjing soal kemampuannya yang selama ini dielu-elukan oleh banyak orang. Mulai timbul keraguan terhadap burung itu, tetapi tidak begitu halnya dengan sang raja. Raja menunjukkan kebijaksanaannya yang selalu berpegang pada fakta daripada cerita. Dalam masa karantinanya, burung itu sama sekali tidak disiksa untuk melumpuhkan kemampuannya agar meredakan isu di masyarakat. Malah burung itu dilayani dengan amat baik oleh raja, bagaikan peliharaan pusaka kerajaan. Tujuan raja justru adalah agar burung tersebut dapat betul-betul berada dalam kondisi maksimal ketika diuji nanti.

Hari demi hari berlalu, rakyat pun sudah tidak sabar untuk melihat kemampuan burung ini. Semua orang berkumpul di alun-alun kerajaan untuk melihatnya. Ada yang berpikir, apa jadinya kalau burung itu sampai gagal membuat raja terkesan. Mungkin saja burung itu akan dibunuh.

Namun alangkah terkejutnya para anggota kerajaan dan masyarakat, ketika raja mengumumkan bahwa apa pun hasil dari pengujian hari ini, burung itu akan tetap dilepas dan raja sudah memerintahkan kepada seluruh warga untuk tidak boleh memburu kembali burung itu, siapa pun itu. Justru, bagi orang yang melanggar perintah raja itulah yang akan dihukum.

Sejak awal, sebenarnya burung itu sudah tahu akan kebijaksanaan raja, sehingga ia sama sekali tidak merasa khawatir membiarkan dirinya ditangkap oleh kerajaan. Bagaimana tidak? Dengan kecepatannya, ia dapat dengan mudah mengelilingi bumi dan mengetahui semua informasi yang beredar di dalamnya, tanpa ada yang bisa menghalanginya, kecuali satu hal, dan itulah yang akan ditunjukkannya kepada sang raja, bahkan kepada seluruh masyarakat yang selama ini telah terperangah oleh kehebatannya. Karena pada faktanya, burung ini merasa bukan yang paling hebat dibandingkan suatu hal itu, dan untuk misi itulah ia berada di sni sekarang, agar bisa menyampaikan kebijaksanaan yang lebih dalam lagi kepada semuanya.

Prosesi pengujian pun sudah dimulai. Para penabuh genderang mulai menabuh ketukan yang harmonis, untuk memberi semangat kepada burung tersebut. Burung itu dikeluarkan dari sarangnya oleh seorang algojo kekar dan dihadapkan kepada sang raja. Sang raja lalu berkata, “Aku sudah mendengar tentang kecepatan terbangmu yang mengesankan. Sekarang, aku ingin kau membuktikan kemampuanmu padaku, juga kepada publik yang selama ini telah mempercayaimu.”

“Baiklah, raja ingin mengujiku apa?” burung itu pun menantang kembali sang raja.

“Di kerajaan, aku memiliki empat orang pemanah terbaik yang telah teruji kehebatannya. Sejauh ini, belum ada yang dapat mengalahkan mereka dalam hal akurasi, kecepatan dan ilmu memanah. Aku akan memerintahkan kepada masing-masing dari mereka untuk melepaskan anak panah ke empat penjuru mata angin yang berlawanan secara bersamaan, yaitu timur, barat, utara dan selatan. Jika kau memang secepat yang dikatakan oleh orang-orang selama ini, maka buktikanlah padaku bahwa kau sanggup menangkap seluruh anak panah yang dilepaskan dari mata angin yang berlawanan sebelum semuanya jatuh ke tanah, barulah akan kuakui kemampuanmu!”

Mendengar tantangan dari sang raja, seluruh rakyat tercengang dan kontan timbul kericuhan di alun-alun karena saling memberi pendapat tentang nasib burung tersebut.

“Kali ini habislah burung itu. Ia tidak akan mungkin sanggup menangkap sebatang pun dari anak panah itu.”

“Akh… aku yakin burung itu akan menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri.”

“Aku rasa lebih baik burung itu menyerah saja daripada nantinya terluka.”

Begitulah massa terus saling beradu pendapat mengenai apa yang akan terjadi.

Sementara burung itu tampak tenang saja. Sesaat kemudian, burung itu pun memekarkan sayapnya dan mengepak-ngepakkannya dengan kekuatan hebat, hingga algojo yang bertubuh kekar tadi pun terdorong ke belakang akibat tekanan angin yang mendesaknya. Burung itu mulai bersiap, begitu juga dengan empat orang pemanah profesional kerajaan.

Pemanah-pemanah itu pun mulai menarik busur panahnya dengan kekuatan penuh, dan dalam sekali kepak si burung telah bertengger dan bersiap di puncak menara, tetapi tidak menghadap satu pun dari empat arah yang dituju oleh pemanah tersebut sehingga membuat orang-orang merasa cemas.

Dalam sekejap, panah-panah dari keempat pemanah tersebut pun melesat seperti kilat ke empat penjuru, tanpa sempat terlihat oleh mata. Begitu juga dalam sekejap, burung itu telah kembali dengan keempat anak panah itu dalam cengkeraman paruhnya, dengan tanpa kekurangan satu apa pun. Orang-orang menjadi tercengang dan mata-mata membelalak, karena mereka seakan belum melihat burung itu bergerak. Raja yang terkesima langsung memberi sambutan kepada burung tersebut.

“Luar biasa. Kau memang hebat dan kau telah membuktikan bahwa kemampuanmu bukanlah rumor dan kecepatanmu adalah nyata. Kau betul-betul tidak tertandingi.”

“Anda salah, Raja! Aku bukan yang tercepat. Aku bukan saja tidak tertandingi, bahkan suatu saat nanti aku juga akan ditaklukkan. Masih ada sesuatu yang jauh lebih cepat dariku, seratus kali, bahkan ribuan kali.”

Raja terkejut dengan pernyataan burung tersebut, begitu juga dengan orang-orang yang berkumpul di alun-alun. Bagaimana mungkin seekor burung berani menyangkal pernyataan Raja?

“Bagaimana mungkin ada yang dapat menaklukkanmu? Aku telah melihat kecepatanmu dengan mata kepalaku sendiri. Memangnya siapa yang kau maksud, yang kau pikir memiliki kecepatan ribuan kali lebih hebat darimu? Bisakah kau membawanya padaku?” Raja pun penasaran dengan hal yang dimaksudkan oleh burung itu.

“Aku tidak perlu membawanya kepada raja, karena raja telah memilikinya. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sini, sesungguhnya mereka tengah bersamanya sekarang. Sesungguhnya hal hebat yang kukatakan akan menaklukkanku, dan bahkan memiliki kecepatan ribuan kali lebih hebat dariku itu, adalah WAKTU!”

Raja pun terdiam, menyadari makna yang disampaikan oleh burung tersebut. Dan secara tidak sadar, sesungguhnya hal yang perlu diuji bukanlah burung itu, melainkan dirinya sendiri, juga semua orang yang berada di alun-alun itu.

Kisah di atas tidak sedang mengajarkan sebuah kompetisi dalam hidup kita, dan kita tidak berhak untuk menguji kalah-menang suatu hal, jika hal yang benar-benar mutlak menang saja tidak kita sadari keberadaannya di sekitar kita. Berapa banyak manusia yang benar-benar menyadari bahwa mereka sebetulnya tengah berada dalam ikatan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan, yaitu waktu?

Saking cepatnya, kadang-kadang kita dapat merasa bahwa hal-hal yang telah berlalu lama namun terasa seperti hanya sebuah kejapan mata. Namun di sisi lain, entah kenapa kita lantas menjadi merasa begitu jauh dari masa lalu kita. Itulah waktu, sebuah aset yang sudah terlalu sering disia-siakan, sementara begitu berlalu ia tidak dapat kembali lagi, dengan metode pembelian yang bagaimanapun itu.

Untuk itu hargailah waktu Anda, sebelum Anda benar-benar kehilangan kesempatan untuk dapat memanfaatkannya lagi, karena pada faktanya, waktu terlalu cepat, sehingga dia tidak akan menunggu konfirmasi dari manusia. Renungkanlah:

“Dapatkah manusia menghentikan waktu?”

“Dapatkan manusia berkompromi atau bernegosiasi dengan waktu?”

“Dapatkah pula, manusia meminta tambahan, cadangan ataupun pengulangan terhadap waktu?”

Lost wealth may be replaced by industry, lost knowledge by study, lost health by temperance or medicine, but lost time is gone forever.” — Samuel Smiles***

Medan, 14 Januari 2012



* Kisah ini disesuaikan dan terinspirasi dari Samaggi Phala

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com