"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Friday, January 06, 2012

Filosofi Ketiadaan dan Kesalingmengadaan



Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?"

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya profesor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya," kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan, karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, sementara gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna, tetapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang profesor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu pun terdiam.

Pada kenyataannya, manusia sering sekali menghakimi atau berasumsi terhadap sesuatu hanya melalui mata, tidak melalui hati. Dalam sebuah quote, Albert Einstein mengatakan, “Few are those who see with their own eyes and feel with their own heart.” Mata tidaklah cukup kuat untuk menangkap semua wujud yang ada di dunia ini, begitu juga dengan semua indera kita yang lain.

Kesadaran manusia memang memiliki keterbatasan. Keterbatasan itu hanya dapat digunakan untuk kehidupan manusia sendiri, tetapi bukan untuk kehidupan lain yang bukan merupakan porsi kemampuan manusia. Thích Nhất Hạnh dalam bukunya, “No Death, No Fear” (2002), menggunakan sebuah pemisalan yang begitu realistis dan mudah dipahami. Anda semua tentu pernah menggunakan radio bukan? Lalu tahukah Anda sistem kerja dari radio itu?

Radio bekerja dengan menangkap sinyal elektronik yang berupa gelombang elektromagnetik, lalu mengubahnya menjadi suara yang dapat Anda dengar. Jika hal yang dapat Anda terima melalui indera Anda saat itu hanyalah suara yang dapat Anda dengar, lantas apakah gelombang yang tidak dapat Anda rasakan dan lihat itu juga dikatakan sebagai tidak ada? Nyatanya, gelombang itu memang ada, bahkan menyebar bebas di udara, dan gelombang inilah yang menyebabkan radio dapat berfungsi dan menghibur Anda. Namun, agar gelombang itu dapat menjadi sebuah fungsi yang berguna buat Anda, maka diperlukanlah sebuah perangkat yang disebut radio. Ini mengajarkan kepada kita bahwa hal yang tidak dapat dirasakan melalui kelima indera manusia tidaklah berarti bahwa hal itu tidak ada, melainkan hal tersebut membutuhkan bantuan media untuk dapat mengubahnya, sehingga hal yang tadinya “abstrak” baru dapat dinikmati oleh manusia. Inilah yang disebut dengan manifestasi!

Lalu simak lagi pemisalan beliau melalui sebuah pensil. Pensil tentu memiliki dua ujung bukan, dan kita dapat menyebutnya sebagai ujung kiri dan ujung kanan. Masalahnya, bagaimana jika kita memotong salah satu ujungnya, katakanlah ujung kiri, pensil itu tetap akan memiliki dua ujung bukan? Lalu potongan ujung yang tadinya kita sebut sebagai ujung kiri, apakah sekarang masih dapat kita sebut sebagai ujung kiri, atau sebutannya malah sudah harus diubah karena posisinya sudah berbeda? Bagaimana pula dengan bekas potongan yang sekarang menjadi ujung yang baru, sebutan apa lagi yang tepat untuk menamainya?

Jadi tampak di sini bahwa isitlah hanyalah sebuah kesepakatan, dan saling mendukung satu dengan yang lainnya. Kiri dapat disebut ada, karena didukung juga oleh keberadaan kanan. Begitu juga dengan atas, didukung keberadaannya oleh bawah. Jadi keduanya adalah saling mengada, saling melengkapi. Bukan malah dijadikan sebagai masalah yang membuat manusia berargumen lalu menciptakan berbagai asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap inilah yang sebenarnya membuat manusia menjadi makhluk yang labil, karena hanya berpatokan pada yang terlihat, yang terdengar, yang tersentuh, yang tercium, dan yang terasa. Padahal masih banyak hal-hal yang berada di luar kuasa manusia untuk dapat merasakannya dengan indera mereka. Sifat yang labil ini jugalah, yang membuat manusia menjadi terlalu cepat berubah menjadi jahat, karena tertarik dengan sesuatu yang dapat terlihat secara langsung, sehingga tepat halnya jika mata disebut sebagai tuan dari semua kejahatan. Itulah sebabnya, berhati-hatilah dengan mata Anda, karena mata tidak selalu benar, dan cenderung dikelabui oleh sebuah kebetulan!***

Medan, 06 Januari 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com