"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Monday, December 17, 2012

Ellisa (4)



I can't help dreaming of you in my every sensible night,
in which my poetry resists a very lonely hidden cry.

Hold me tight,
as I always keep you on my sight.

Upfront your dream,
there is a tragic me staring at your hibernate face;
teary and dejected.

Please, pour me some little kisses as a goodbye shoot.

We are melted outside the border of love
where our footsteps are sandy
and our heartstrings are spending wastefully.

Medan, December 17th, 2012

Monday, December 10, 2012

Ellisa (3)



Tidurlah, Ellisa, selembut kesadaranmu yang beranjak padam seremang demi seremang.
Mimpikan aku dengan kerenggangan hati yang leluasa menafsir makna cinta.

Aku mencintaimu sebagai simpulan akhir dan mufakat kekal ketulusanku.

Aku hanya ingin mencintaimu dengan rumus kekekalan yang paling sederhana,
di mana kau dan aku tidak terbagi dan tidak terpecahkan.

Setiap sepi bernilai satu tusukan batin.
Cinta adalah hasrat yang berlangsung di antara kedipan dan belalak dua mata angin: (1) bahagia; atau (2) celaka.

Jika aku memimpikanmu, mungkin itu kebetulan.
Tapi jika aku mencintaimu, mungkin itu kebenaran.

Ada kalanya rasa cinta telah usang namun tak terabaikan.

Medan, 10 Desember 2012

Wednesday, December 05, 2012

Ellisa (2)



You're like cupcakes. Simple but cute.
The curve of your smile, the tenderness of your femininity.

February 7-8th, 2010: moment that changed the history of my manhood.

Love is (at first) always causing uncertainty of the heart-motion.

I'm longing you from the deepest corner of my mourning heart,
where all the memories failed as a freezing secret.

Destiny is closing, and the time is ticking apart.
You and I are meant to be detached since the broken start.

No matter what, I will always dream of you in every impossibility!

Sincerely: The Man who Loves in Silent.

Medan, December 05th, 2012

Tuesday, December 04, 2012

Ellisa (1)



Kau, kenangan yang tak pernah terpecahkan...

Dua tahun telah melintang
dan kita saling lupa
saling pejam

Oih, waktu serasa misteri,
dan kau serta-merta telah jadi yang kukasihi.

Sebab cinta adalah sayatan yang mudah jadi luka.

Medan, 04 Desember 2012

Saturday, January 14, 2012

Pelajaran Hidup dari Seekor Burung



Alkisah, ada seekor burung yang sangat terkenal karena kecepatan terbangnya. Kecepatannya ini begitu memukau seluruh rakyat kota karena nyaris tidak ada seorang pemburu pun yang dapat menangkapnya, sehingga burung ini tetap dapat hidup bebas di alam. Hingga suatu hari, isu tentang ketenaran burung ini pun sampai pada telinga raja, sehingga membuat raja penasaran, seberapa hebat burung ini sebenarnya hingga mampu membuat orang-orang begitu heboh membicarakannya.

Dengan strategi khusus yang dirancang oleh para pemburu profesional dari kerajaan, raja pun memerintahkan mereka untuk menangkap burung ini hidup-hidup, tanpa ada yang boleh melukainya, apalagi sampai membunuhnya. Tujuan raja adalah ingin menguji kebenaran isu yang beredar di masyarakat, apakah kemampuan burung ini memang sesuai dengan penilaian orang selama ini.

Dalam prosesnya, ternyata untuk menangkap burung ini tidaklah sesulit yang dibayangkan oleh tim pemburu kerajaan tersebut. Dalam waktu singkat, burung ini pun berhasil ditangkap dengan selamat dan dikurung dalam sebuah sangkar berlapis emas yang telah disiapkan. Para pemburu ini pun merasa bangga karena tentunya hasil jerih payah mereka akan diganjar dengan hadiah besar oleh raja. Namun mereka tidak tahu, bahwa sebetulnya dengan kecepatan yang dimiliki, burung itu bisa saja dengan mudah lolos dari sergapan para pemburu itu. Burung itu memang sengaja membiarkan dirinya ditangkap agar ia bisa masuk ke dalam kerajaan dan bertemu dengan raja yang ingin mengujinya.

Celakanya, dengan tertangkapnya burung ini, masyarakat pun mulai bergunjing soal kemampuannya yang selama ini dielu-elukan oleh banyak orang. Mulai timbul keraguan terhadap burung itu, tetapi tidak begitu halnya dengan sang raja. Raja menunjukkan kebijaksanaannya yang selalu berpegang pada fakta daripada cerita. Dalam masa karantinanya, burung itu sama sekali tidak disiksa untuk melumpuhkan kemampuannya agar meredakan isu di masyarakat. Malah burung itu dilayani dengan amat baik oleh raja, bagaikan peliharaan pusaka kerajaan. Tujuan raja justru adalah agar burung tersebut dapat betul-betul berada dalam kondisi maksimal ketika diuji nanti.

Hari demi hari berlalu, rakyat pun sudah tidak sabar untuk melihat kemampuan burung ini. Semua orang berkumpul di alun-alun kerajaan untuk melihatnya. Ada yang berpikir, apa jadinya kalau burung itu sampai gagal membuat raja terkesan. Mungkin saja burung itu akan dibunuh.

Namun alangkah terkejutnya para anggota kerajaan dan masyarakat, ketika raja mengumumkan bahwa apa pun hasil dari pengujian hari ini, burung itu akan tetap dilepas dan raja sudah memerintahkan kepada seluruh warga untuk tidak boleh memburu kembali burung itu, siapa pun itu. Justru, bagi orang yang melanggar perintah raja itulah yang akan dihukum.

Sejak awal, sebenarnya burung itu sudah tahu akan kebijaksanaan raja, sehingga ia sama sekali tidak merasa khawatir membiarkan dirinya ditangkap oleh kerajaan. Bagaimana tidak? Dengan kecepatannya, ia dapat dengan mudah mengelilingi bumi dan mengetahui semua informasi yang beredar di dalamnya, tanpa ada yang bisa menghalanginya, kecuali satu hal, dan itulah yang akan ditunjukkannya kepada sang raja, bahkan kepada seluruh masyarakat yang selama ini telah terperangah oleh kehebatannya. Karena pada faktanya, burung ini merasa bukan yang paling hebat dibandingkan suatu hal itu, dan untuk misi itulah ia berada di sni sekarang, agar bisa menyampaikan kebijaksanaan yang lebih dalam lagi kepada semuanya.

Prosesi pengujian pun sudah dimulai. Para penabuh genderang mulai menabuh ketukan yang harmonis, untuk memberi semangat kepada burung tersebut. Burung itu dikeluarkan dari sarangnya oleh seorang algojo kekar dan dihadapkan kepada sang raja. Sang raja lalu berkata, “Aku sudah mendengar tentang kecepatan terbangmu yang mengesankan. Sekarang, aku ingin kau membuktikan kemampuanmu padaku, juga kepada publik yang selama ini telah mempercayaimu.”

“Baiklah, raja ingin mengujiku apa?” burung itu pun menantang kembali sang raja.

“Di kerajaan, aku memiliki empat orang pemanah terbaik yang telah teruji kehebatannya. Sejauh ini, belum ada yang dapat mengalahkan mereka dalam hal akurasi, kecepatan dan ilmu memanah. Aku akan memerintahkan kepada masing-masing dari mereka untuk melepaskan anak panah ke empat penjuru mata angin yang berlawanan secara bersamaan, yaitu timur, barat, utara dan selatan. Jika kau memang secepat yang dikatakan oleh orang-orang selama ini, maka buktikanlah padaku bahwa kau sanggup menangkap seluruh anak panah yang dilepaskan dari mata angin yang berlawanan sebelum semuanya jatuh ke tanah, barulah akan kuakui kemampuanmu!”

Mendengar tantangan dari sang raja, seluruh rakyat tercengang dan kontan timbul kericuhan di alun-alun karena saling memberi pendapat tentang nasib burung tersebut.

“Kali ini habislah burung itu. Ia tidak akan mungkin sanggup menangkap sebatang pun dari anak panah itu.”

“Akh… aku yakin burung itu akan menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri.”

“Aku rasa lebih baik burung itu menyerah saja daripada nantinya terluka.”

Begitulah massa terus saling beradu pendapat mengenai apa yang akan terjadi.

Sementara burung itu tampak tenang saja. Sesaat kemudian, burung itu pun memekarkan sayapnya dan mengepak-ngepakkannya dengan kekuatan hebat, hingga algojo yang bertubuh kekar tadi pun terdorong ke belakang akibat tekanan angin yang mendesaknya. Burung itu mulai bersiap, begitu juga dengan empat orang pemanah profesional kerajaan.

Pemanah-pemanah itu pun mulai menarik busur panahnya dengan kekuatan penuh, dan dalam sekali kepak si burung telah bertengger dan bersiap di puncak menara, tetapi tidak menghadap satu pun dari empat arah yang dituju oleh pemanah tersebut sehingga membuat orang-orang merasa cemas.

Dalam sekejap, panah-panah dari keempat pemanah tersebut pun melesat seperti kilat ke empat penjuru, tanpa sempat terlihat oleh mata. Begitu juga dalam sekejap, burung itu telah kembali dengan keempat anak panah itu dalam cengkeraman paruhnya, dengan tanpa kekurangan satu apa pun. Orang-orang menjadi tercengang dan mata-mata membelalak, karena mereka seakan belum melihat burung itu bergerak. Raja yang terkesima langsung memberi sambutan kepada burung tersebut.

“Luar biasa. Kau memang hebat dan kau telah membuktikan bahwa kemampuanmu bukanlah rumor dan kecepatanmu adalah nyata. Kau betul-betul tidak tertandingi.”

“Anda salah, Raja! Aku bukan yang tercepat. Aku bukan saja tidak tertandingi, bahkan suatu saat nanti aku juga akan ditaklukkan. Masih ada sesuatu yang jauh lebih cepat dariku, seratus kali, bahkan ribuan kali.”

Raja terkejut dengan pernyataan burung tersebut, begitu juga dengan orang-orang yang berkumpul di alun-alun. Bagaimana mungkin seekor burung berani menyangkal pernyataan Raja?

“Bagaimana mungkin ada yang dapat menaklukkanmu? Aku telah melihat kecepatanmu dengan mata kepalaku sendiri. Memangnya siapa yang kau maksud, yang kau pikir memiliki kecepatan ribuan kali lebih hebat darimu? Bisakah kau membawanya padaku?” Raja pun penasaran dengan hal yang dimaksudkan oleh burung itu.

“Aku tidak perlu membawanya kepada raja, karena raja telah memilikinya. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sini, sesungguhnya mereka tengah bersamanya sekarang. Sesungguhnya hal hebat yang kukatakan akan menaklukkanku, dan bahkan memiliki kecepatan ribuan kali lebih hebat dariku itu, adalah WAKTU!”

Raja pun terdiam, menyadari makna yang disampaikan oleh burung tersebut. Dan secara tidak sadar, sesungguhnya hal yang perlu diuji bukanlah burung itu, melainkan dirinya sendiri, juga semua orang yang berada di alun-alun itu.

Kisah di atas tidak sedang mengajarkan sebuah kompetisi dalam hidup kita, dan kita tidak berhak untuk menguji kalah-menang suatu hal, jika hal yang benar-benar mutlak menang saja tidak kita sadari keberadaannya di sekitar kita. Berapa banyak manusia yang benar-benar menyadari bahwa mereka sebetulnya tengah berada dalam ikatan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan, yaitu waktu?

Saking cepatnya, kadang-kadang kita dapat merasa bahwa hal-hal yang telah berlalu lama namun terasa seperti hanya sebuah kejapan mata. Namun di sisi lain, entah kenapa kita lantas menjadi merasa begitu jauh dari masa lalu kita. Itulah waktu, sebuah aset yang sudah terlalu sering disia-siakan, sementara begitu berlalu ia tidak dapat kembali lagi, dengan metode pembelian yang bagaimanapun itu.

Untuk itu hargailah waktu Anda, sebelum Anda benar-benar kehilangan kesempatan untuk dapat memanfaatkannya lagi, karena pada faktanya, waktu terlalu cepat, sehingga dia tidak akan menunggu konfirmasi dari manusia. Renungkanlah:

“Dapatkah manusia menghentikan waktu?”

“Dapatkan manusia berkompromi atau bernegosiasi dengan waktu?”

“Dapatkah pula, manusia meminta tambahan, cadangan ataupun pengulangan terhadap waktu?”

Lost wealth may be replaced by industry, lost knowledge by study, lost health by temperance or medicine, but lost time is gone forever.” — Samuel Smiles***

Medan, 14 Januari 2012



* Kisah ini disesuaikan dan terinspirasi dari Samaggi Phala

Friday, January 06, 2012

Filosofi Ketiadaan dan Kesalingmengadaan



Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?"

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya profesor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya," kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan, karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, sementara gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna, tetapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang profesor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu pun terdiam.

Pada kenyataannya, manusia sering sekali menghakimi atau berasumsi terhadap sesuatu hanya melalui mata, tidak melalui hati. Dalam sebuah quote, Albert Einstein mengatakan, “Few are those who see with their own eyes and feel with their own heart.” Mata tidaklah cukup kuat untuk menangkap semua wujud yang ada di dunia ini, begitu juga dengan semua indera kita yang lain.

Kesadaran manusia memang memiliki keterbatasan. Keterbatasan itu hanya dapat digunakan untuk kehidupan manusia sendiri, tetapi bukan untuk kehidupan lain yang bukan merupakan porsi kemampuan manusia. Thích Nhất Hạnh dalam bukunya, “No Death, No Fear” (2002), menggunakan sebuah pemisalan yang begitu realistis dan mudah dipahami. Anda semua tentu pernah menggunakan radio bukan? Lalu tahukah Anda sistem kerja dari radio itu?

Radio bekerja dengan menangkap sinyal elektronik yang berupa gelombang elektromagnetik, lalu mengubahnya menjadi suara yang dapat Anda dengar. Jika hal yang dapat Anda terima melalui indera Anda saat itu hanyalah suara yang dapat Anda dengar, lantas apakah gelombang yang tidak dapat Anda rasakan dan lihat itu juga dikatakan sebagai tidak ada? Nyatanya, gelombang itu memang ada, bahkan menyebar bebas di udara, dan gelombang inilah yang menyebabkan radio dapat berfungsi dan menghibur Anda. Namun, agar gelombang itu dapat menjadi sebuah fungsi yang berguna buat Anda, maka diperlukanlah sebuah perangkat yang disebut radio. Ini mengajarkan kepada kita bahwa hal yang tidak dapat dirasakan melalui kelima indera manusia tidaklah berarti bahwa hal itu tidak ada, melainkan hal tersebut membutuhkan bantuan media untuk dapat mengubahnya, sehingga hal yang tadinya “abstrak” baru dapat dinikmati oleh manusia. Inilah yang disebut dengan manifestasi!

Lalu simak lagi pemisalan beliau melalui sebuah pensil. Pensil tentu memiliki dua ujung bukan, dan kita dapat menyebutnya sebagai ujung kiri dan ujung kanan. Masalahnya, bagaimana jika kita memotong salah satu ujungnya, katakanlah ujung kiri, pensil itu tetap akan memiliki dua ujung bukan? Lalu potongan ujung yang tadinya kita sebut sebagai ujung kiri, apakah sekarang masih dapat kita sebut sebagai ujung kiri, atau sebutannya malah sudah harus diubah karena posisinya sudah berbeda? Bagaimana pula dengan bekas potongan yang sekarang menjadi ujung yang baru, sebutan apa lagi yang tepat untuk menamainya?

Jadi tampak di sini bahwa isitlah hanyalah sebuah kesepakatan, dan saling mendukung satu dengan yang lainnya. Kiri dapat disebut ada, karena didukung juga oleh keberadaan kanan. Begitu juga dengan atas, didukung keberadaannya oleh bawah. Jadi keduanya adalah saling mengada, saling melengkapi. Bukan malah dijadikan sebagai masalah yang membuat manusia berargumen lalu menciptakan berbagai asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap inilah yang sebenarnya membuat manusia menjadi makhluk yang labil, karena hanya berpatokan pada yang terlihat, yang terdengar, yang tersentuh, yang tercium, dan yang terasa. Padahal masih banyak hal-hal yang berada di luar kuasa manusia untuk dapat merasakannya dengan indera mereka. Sifat yang labil ini jugalah, yang membuat manusia menjadi terlalu cepat berubah menjadi jahat, karena tertarik dengan sesuatu yang dapat terlihat secara langsung, sehingga tepat halnya jika mata disebut sebagai tuan dari semua kejahatan. Itulah sebabnya, berhati-hatilah dengan mata Anda, karena mata tidak selalu benar, dan cenderung dikelabui oleh sebuah kebetulan!***

Medan, 06 Januari 2012

Monday, January 02, 2012

You Reap What You Sow



Hukum tabur dan tuai sudah diwariskan sejak turun temurun dari generasi lampau. Tidak sedikit yang meragukan kebenaran ungkapan ini, karena tidak kunjung datangnya hasil tuaian yang dinanti-nanti, padahal yang bersangkutan sudah lama menabur benihnya. Dengan kata lain, banyak orang yang mengharapkan hasil yang bisa muncul langsung secara instan, bersamaan dengan kontribusi yang diberikannya.

Manusia dan pamrih seperti dua magnet yang saling berlekatan, tidak terpisahkan dari konsep perhitungan tentang untung-rugi perbuatan. Namun ada juga manusia yang betul-betul mulia dalam memandang hukum tabur-tuai ini, bahkan melebihi tugas dan mandat yang dipercayakan kepadanya. Seperti kisah seorang tukang ledeng di bawah ini, Anda akan menemukan sebuah ketulusan yang tidak akan dijumpai pada pola pandang tabur-tuai yang lainnya.

Suatu ketika owner dari Mercedes Benz mempunyai masalah dengan kran air di kamar mandi rumahnya. Kran tersebut selalu bocor dan membuat big boss Mercedes itu khawatir akan keselamatan anaknya yang dapat terpeleset dan jatuh. Atas rekomendasi dari temannya, Mr Benz kemudian menghubungi seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran rumahnya.

Akhirnya dibuatlah janji untuk memperbaiki kran tersebut, yaitu 2 hari kemudian. Hal ini karena si tukang ledeng cukup sibuk. Bahkan tukang ledeng tersebut sama sekali tidak mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah salah satu orang penting yaitu pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.

Setelah ditelepon, 1 hari kemudian si tukang ledeng menghubungi Mr Benz untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah bersedia menunggu hingga 1 hari lagi. Mr Benz pun terkagum-kagum atas pelayanan si tukang ledeng dan cara berbicaranya.

Selanjutnya pada hari yang telah ditentukan, si tukang ledeng datang utk memperbaiki kran yang bocor di rumah Mr Benz. Setelah diperiksa dengan seksama, akhirnya kran tersebut selesai diperbaiki dan setelah menerima pembayaran atas jasanya, si tukang ledeng pulang ke rumahnya.

Sekitar 2 minggu kemudian, si tukang ledeng kembali menelepon Mr Benz untuk menanyakan apakah kran yang telah diperbaiki sudah benar-benar dalam kondisi baik dan tidak ada masalah yang timbul?

Ternyata Mr Benz puas akan hasil kerja si tukang ledeng dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan si tukang ledeng. Mr Benz lalu berpikir, bahwa orang ini pasti orang yang hebat walaupun hanya seorang tukang ledeng.

Beberapa bulan kemudian Mr Benz pun merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya.

Tahukah Anda siapa nama tukang ledeng tersebut?

Ya, dialah Christopher L Jr. Saat ini beliau menjabat sebagai General Manager Customer Satisfaction & Public Relation di Mercedes Benz.


Jadi, sudah jelas bahwa hukum tabur-tuai juga membutuhkan toleransi, sehingga kita tidak hanya akan menabur benih yang sesuai dengan kepentingan kita, tetapi melupakan eksistensi orang lain di sekitar. Dalam sebuah wawancara, Chris juga tidak pernah mengharapkan apa pun dan menyangka akan mendapat loncatan karier sedemikian hebat dalam hidupnya. Chris hanya tahu bahwa tanggung jawabnya adalah memberikan yang terbaik bagi orang lain dalam tugasnya, dan itu adalah komitmen kerjanya. Dalam ilmu marketing, inilah yang disebut dengan service excellence.

Sudahkah Anda melayani orang lain dengan tulus, sebelum Anda berani untuk menuai hasil yang Anda tabur sebelumnya, dan mempertanggungjawabkan kelanjutannya?***

Medan, 02 Januari 2012