"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Tuesday, December 27, 2011

Kisah Nyata tentang Seorang Pramugari dan Kakek Tua dari Desa



Bagaimana jadinya jika seorang wanita modern yang bekerja pada lingkungan high class berjumpa dengan seorang kakek tua yang berasal dari desa? Mungkin hal yang melintas di benak kita adalah adanya semacam unsur penghinaan ataupun pembunuhan karakter yang bersifat melecehkan, meremehkan ataupun memandang sepele. Apakah betul kemewahan dan kesederhanaan adalah dua kutub yang tidak pernah dapat bersanding dalam kehidupan dewasa ini? Ikuti cerita nyata di bawah ini, dan Anda akan menemukan sebuah pelajaran yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airlines, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan. Setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton. Namun pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan drastis pada pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking. Penumpang sangat penuh hari ini. Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, menggotong sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Saat itu saya sedang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama yang muncul dari pikiran saya adalah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Ketika melewati baris ke-20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa. Dengan terkejut dia melambaikan tangan tanda menolak. Bahkan ketika kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya. Lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang. Menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya. Saat kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit. Dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, dia takut merusak barang di dalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya. Kami lalu meminta seorang pramugara untuk mengantar dia ke toilet. Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Dengan tidak bertanya lagi, kami meletakkan segelas minuman teh di mejanya. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan tergesa-gesa dia mengatakan, “Tidak usah, tidak usah.” Kami mengatakan, “Engkau sudah haus, minumlah.” Pada saat itu, dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam lalu disodorkan kepada kami. Kami lalu menjelaskan kepadanya bahwa minumannya gratis, namun dia tidak percaya. Katanya saat dia merasa haus dalam perjalanan menuju bandara dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan, dia tidak diladeni dan malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawanya sangat sedikit. Itulah sebabnya dia hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan dan itu pun ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia, akhirnya dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh. Kami kembali menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota, tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota dan akhirnya pindah kembali ke desa. Pada perjalanan kali ini, orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, namun anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan diri untuk menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal sehingga dia bersikeras untuk pergi sendiri. Dengan sangat terpaksa keinginan bapaknya itu disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi dia bersikeras untuk membawanya sendiri. Katanya jika ditaruh di tempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Akhirnya kami membujuknya untuk meletakkan karung tersebut dalam bagasi di atas tempat duduk, dan dia pun bersedia, dengan hati-hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar. Namun saat pesawat hendak mendarat, dengan suara kecil dia menanyakan kepada saya apakah ada kantongan kecil. Dia lalu meminta saya untuk meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, jadi dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget!

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, tetapi di mata seseorang yang berasal desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya. Dengan terharu kami lalu mengumpulkan seluruh sisa makanan yang belum kami bagikan kepada penumpang lalu ditaruh di dalam sebuah kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut. Namun sungguh di luar dugaan, dia malah menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan dan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan lurus dan tulus tersebut benar-benar membuat saya sangat terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat. Sebelum keluar dia melakukan suatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya. Dia jatuh berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang pernah dijumpai. “Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan melayani saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.” Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya, lalu menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya untuk keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, dari yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi saya belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami seperti kakek tua itu. Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami demi mengucapkan terima kasih. Sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar dia rela menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya di masa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.


Di tengah arus kehidupan yang begitu modern dan di mabuk kemewahan, ke mana lagi kita dapat menjumpai manusia dengan nilai ketulusan yang begitu luar biasa? Bahkan rasanya, setiap interaksi yang terpapar di depan kita, semuanya tak lepas dari prinsip take and give, atau saya lebih suka menyebutnya buy and sell. Selalu ada pamrih yang mengikut di belakang, jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang kita mau, atau jika kita diminta untuk membantu orang lain.

Namun kisah di atas telah menyadarkan orang-orang yang tenggelam dalam kemewahan, bahwa nilai kemuliaan yang sebenarnya bukan terletak pada seberapa banyak aset yang dimiliki, tetapi pada seberapa jauh manusia dapat mempraktikkan nilai itu tanpa bergantung pada aset yang dimilikinya. Sayang, kendala terbesar yang dihadapi oleh kaum manusia modern adalah keengganan untuk meninggalkan ikatan materialistis dan kesenangan duniawi, apalagi jika ikatan itu dihubungkan dengan konsep emosional seperti cinta dan kasih sayang.

Kisah di atas menjadi buktinya, bahwa kasih sayang yang tulus ternyata belum punah dari muka bumi ini, meskipun itu datang dari seorang ayah kepada anaknya. Dapatkah di antara kita mempraktikkan nilai seperti di atas bukan hanya kepada keluarga kita, tetapi juga kepada lingkungan sekitar seperti teman-teman, pasangan atau bahkan kepada orang-orang yang membutuhkan? Cukup relakah kita? Cukup muliakah kita? Silakan Anda yang memutuskan, apakah Anda lebih terikat kepada nilai, atau harga!***

Medan, 27 Desember 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com