"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Monday, October 03, 2011

Lee Myung-bak, Presiden Murah Hati dari Keluarga Melarat



Menjadi presiden dari sebuah negara maju, tentu bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi jika sang pemangku jabatan puncak itu adalah seseorang yang dulunya berasal dari keluarga miskin yang amat menderita kehidupannya. Ironis memang, seakan-akan pungguk yang sedang merindukan bulan. Namun Lee, seorang pemuda yang punya tekad keras, dapat membuktikan kepada dunia, bahwa dia telah sukses membangun revolusi taraf hidupnya, yang awalnya hanya berasal dari sebuah mimpi.

Siapa yang menyangka bahwa Lee yang notabene seorang presiden pernah punya pengalaman kehidupan yang amat memprihatinkan? Terlahir di Osaka, Jepang, tahun 1941, Lee kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Orang tuanya hanyalah bekerja sebagai buruh tani. Masa kecilnya tidak seperti kebanyakan kanak-kanak yang dapat dengan gembira merealisasikan keinginannya, ataupun sempat meluangkan sedikit saja waktu untuk bersantai. Saat masih kecil, Lee hanyalah seorang pengonsumsi ampas gandum untuk makan sehari-hari. Pagi harinya, Lee memakan ampas gandum untuk sarapan. Sedangkan siangnya, karena keterbatasan uang, Lee pun memilih untuk mengganjal perutnya hanya dengan air putih. Malamnya, barulah Lee kembali memakan ampas gandum yang sudah dia makan berkali-kali pada waktu sebelumnya.

Lalu, janganlah Anda mengira bahwa ampas gandum itu adalah hasil dari keluarganya sendiri. Ampas gandum itu sendiri pun mereka peroleh dari sisa penyulingan minuman keras. Jadi dengan kata lain, Lee hanyalah seorang pengonsumsi sampah pada masa kecilnya. Sebuah masa kecil yang amat sangat suram, bukan? Jauh dari kelimpahan materi dan kelucuan mainan kanak-kanak.

Beranjak remaja, Lee mulai mengeksplorasi kemandiriannya dengan menjadi pedangan asongan. Lee mengasong makanan dan es krim untuk membantu ekonomi keluarganya. “Tak terpikir bisa bawa makan siang untuk di sekolah,” sebut Lee dalam otobiografinya yang berjudul “There is No Myth” yang diterbitkan kali pertama pada 1995.

Meski tenggelam dalam laut kemiskinan yang amat sangat membatasi hidupnya, justru di saat inilah Lee memunculkan mimpi pertamanya, yaitu menempuh pendidikan tinggi untuk memperbaiki taraf hidupnya. Untuk itulah, Lee kemudian belajar keras agar bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Pada akhir tahun 1959, keluarga Lee pindah ke Seoul dengan tujuan mencari penghidupan yang lebih baik. Namun nasib orang tuanya pun belum banyak berubah, dengan hanya menjadi pedagang sayur di jalanan. Saat itu pula, Lee mulai lepas dari orang tuanya dan bekerja sebagai buruh bangunan.”Mimpi saya saat itu adalah bisa menjadi pegawai,” kisahnya dalam otobiografi.

Mimpi Lee pun berlanjut. Selepas SMA, karena prestasi akademiknya bagus, Lee pun berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk menanggung biaya kuliahnya, Lee kemudian bekerja sebagai tukang sapu jalan. Pada saat kuliah inilah, Lee memulai debut politiknya dengan terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa dan ikut dalam demo antipemerintah yang berlangsung saat itu. Alhasil, karena aksinya ini Lee pun dikenakan hukuman penjara percobaan pada 1964.

Apesnya, vonis hukuman ini kemudian malah membuatnya tidak bisa diterima sebagai karyawan di Hyundai Group. Pihak Hyundai Group cukup beralasan atas penolakan ini, karena mereka kuatir pemerintah akan berang bila Lee diterima di perusahaan itu. Namun demi mewujudkan mimpinya, Lee lantas menempuh jalur korespondensi langsung kepada kantor kepresidenan. Dalam surat itu Lee memelas berharap agar pemerintah tidak menghancurkan masa depannya. Surat Lee itu sampai kepada sekretaris presiden dan sangat menyentuh, sehingga akhirnya beliau memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.

Di Hyundai inilah, Lee memulai debut karier profesionalnya. Dan akhirnya mimpi pertama Lee berhasil diwujudkan, yaitu menjadi pegawai. Lee menunjukkan bakatnya yang gemilang dalam bekerja, sampai-sampai dia dijuluki “buldozer” oleh rekan kerjanya karena dianggap selalu mampu menyelesaikan semua persoalan yang muncul. Salah satu aksinya yang fenomenal adalah mempreteli habis sebuah buldozer untuk mempelajari cara kerja mesinnya. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Kemampuan Lee mengundang kekaguman dari pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi dari pimpinannya itu, karier Lee terus melesat bagai anak panah. Lee akhirnya berhasil bisa menduduki posisi puncak di divisi konstruksi, meskipun masa kerjanya hanya mencapai 10 tahun. Divisi inilah yang kemudian menjadi fondasi utama kesuksesan Hyundai pada periode tahun 1970 – 1980, di mana Korea Selatan saat itu juga tengah mengalami booming ekonomi yang sangat marak.

30 tahun bekerja di Hyundai, akhirnya Lee terjun ke ranah politik dengan menjadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian pada tahun 2002, Lee terpilih menjadi Walikota Seoul, kota yang pernah menjadi saksi kemelaratan hidupnya. Dan puncaknya adalah pada tahun 2007, Lee yang dulunya hanyalah seorang miskin akhirnya menjadi orang nomor satu di Korea Selatan. Dan Lee telah membuka mata dunia, bahwa kemiskinan bukanlah pembatas untuk menjadi sukses, tetapi sesungguhnya pembatas terbesar manusia adalah ketakutan mereka sendiri, yang akhirnya membuat manusia menjadi kehilangan daya juang.

Kisah inspiratif Lee tidak berhenti sampai di sini. Sejak Lee berhasil menjadi presiden, Lee kemudian mendonasikan 80% dari kekayaannya (senilai USD 26 juta atau Rp 267,8 milyar) kepada yayasan Lee Myung-bak-Kim Yoon-ok. Yayasan ini diambil dari nama Lee sendiri dan istrinya. Fokus yayasan tersebut adalah untuk memberikan beasiswa pendidikan dan bantuan kemanusiaan bagi yang membutuhkan. Tindakan dermawan Lee ini menjadi sejarah baru dalam dunia politik Korea Selatan. “Saya mengetahui bahwa cara terbaik untuk membayar kebaikan itu, yaitu memberikan apa yang saya miliki kepada masyarakat,” ungkapnya. Sumbangan ini memang merupakan janji-janji yang dilontarkan Lee ketika kampanye, sekaligus membuktikan bahwa seorang gentleman adalah orang yang tidak akan pernah menciptakan jarak antara janji dan realisasi. Seberapa jauh kita dapat melihat bukti seperti ini di Indonesia?

Lee mengungkapkan, donasi tersebut telah dipikirkan sejak lama. Ternyata istri dan empat anaknya juga mendukung keputusan tersebut. “Saya bekerja keras untuk mendapatkan uang itu. Aset itu sangat berharga bagi saya. Tapi, saya berharap uang tersebut dapat digunakan untuk orang lain,” ujar Lee. “Tanpa pencapaian yang menakjubkan dilakukan rakyat terhadap negara besar ini, seorang lelaki dari keluarga yang miskin tidak akan pernah menjadi presiden negara ini,” tandasnya.

Bukan kali ini saja Lee menyumbangkan kekayaan kepada orang yang kurang beruntung. Sejak menduduki kursi kepresidenan pada Februari 2008, Lee menyumbangkan seluruh gajinya sebagai Presiden senilai 14 juta won (sekitar Rp 112,9 milyar) kepada rakyat yang berpenghasilan rendah. Dengan tingkat kepedulian sosial Lee yang begitu tinggi, pantas jika dia dijuluki sebagai presiden paling murah hati sedunia. Sebab presiden mana yang (cukup) berani untuk mengikuti jejaknya di tengah era sentralisasi kepentingan saat ini?

Dan lagi, jika Lee saja yang dulunya hanyalah seorang miskin dapat memperoleh kesuksesan hidup setinggi ini, apalagi yang membuat Anda membatasi diri Anda? Terlepas siapa pun diri Anda, apakah Anda sudah bermimpi hari ini? Semoga menginspirasi!***

Medan, 10 Oktober 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com