"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Tuesday, September 27, 2011

Bill Havens and The Law of Priority


“Not everybody has the strength of character to say no to something he or she truly wants in order to say yes to something that truly matters”


Saya pernah membaca sebuah quote tentang leadership yang intinya mengatakan bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah seni yang dilatih untuk dapat dengan berani mengatakan tidak! Tentu saja, “tidak” dalam hal ini bukan berupa sebuah pembangkangan, tetapi maksudnya adalah sebagaimana quote yang saya cantumkan di judul tulisan ini, yaitu berani menentang demi mengalihkan risiko atau untuk memperoleh hasil yang lebih baik.


Membuat sebuah afirmasi, atau dengan kata lain mengatakan “ya”, diklaim sebagai sebuah hal yang lazim gampangnya. Anak kecil dapat dengan mudah mengatakan “ya” terhadap semua pilihan yang ditawarkan kepadanya. Karena apa? Karena mereka sama sekali belum mengenal yang namanya risiko! Itu sebabnya, anak kecil dapat dengan mudah bercita-cita setinggi langit seenak angannya, tanpa mempertimbangkan sisi realistis yang notabene merupakan akumulasi risiko dari kehidupan. Semakin realistis Anda, maka semakin banyak risiko yang Anda hindari.

Sebagai orang dewasa, tidak berarti kita lebih bijak dari anak kecil dalam menyikapi sisi realistis dari sekian banyaknya pilihan yang menantang kita. Kita dapat saja mengiyakan seluruh hal, tetapi seberapa banyak hal yang kita iyakan tersebut juga sekaligus dapat memberi efek positif yang setara? Tentu tidak ada yang bisa menjamin, bukan? Hal inilah yang kemudian mensyaratkan adanya pertimbangan dalam ilmu kepemimpinan, dan ketika pertimbangan itu akhirnya bermuara kepada sebuah negasi, maka seorang pemimpin wajib berani untuk mengatakan TIDAK!

Namun, hal di atas masih amat sangat sederhana, jika kita hanya berani menolak sesuatu yang memang tidak baik, atau tidak dapat mendatangkan hasil baik. Bagaimana jika kita dihadapkan pada lebih dari satu pilihan, dan seluruh pilihan itu adalah hal yang dijamin dapat memberikan hasil positif, namun alangkah sedihnya ketika kita diwajibkan untuk mengambil hanya satu pilihan? Bukankah hal itu sangat sulit? Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk dapat memilih dengan bijak dan terbaik bagi semua orang? Perlukah adanya pengorbanan di situ? Mari kita simak kisah nyata yang terjadi pada Bill Havens, seorang atlet kano dari AS yang telah mengubah cara pandang dunia, dan mungkin cara pandang Anda sendiri dengan cara dia dalam menentukan pilihan!

Dikisahkan pada Olimpiade Paris tahun 1924, pertama kalinya olahraga cabang kano dimasukkan dalam cabang yang diperlombakan dalam kompetisi seantero Bumi itu. Pada saat itu, tim yang paling diunggulkan adalah tim yang berasal dari Amerika Serikat, yang mana salah seorang pesertanya adalah atlet muda yang bernama Bill Havens.

Menjelang dimulainya pesta olahraga terbesar di jagat raya itu, bersamaan pula istri Bill akan melahirkan anaknya yang pertama. Saat itu, tim AS termasuk Bill sudah berada dalam karantina dan akan mulai bertanding di cabang kano, sehingga selang waktu yang dapat dimanfaatkan sangatlah tipis, apalagi pada masa itu belum ada pesawat terbang seperti sekarang ini, dan perjalanan dari AS ke Paris hanya dapat ditempuh dengan kapal pesiar berkecepatan rendah.

Jadilah hal itu sebuah dilema besar bagi Bill. Apakah dia harus meninggalkan istrinya ketika melahirkan anak pertamanya dan pergi ke Paris demi mewujudkan mimpinya untuk bertanding di kompetisi Olimpiade? Atau malah dia mengundurkan diri dari tim dan pulang kembali ke rumah untuk menemani istrinya sambil menyambut kelahiran anak pertamanya? Tentu saja, sebagai seorang istri yang mendukung karier suaminya, istrinya menyarankan agar Bill tetap ikut berkompetisi, sebagaimana hal itu adalah mimpi dan penantian panjang Bill yang paling dia idam-idamkan sejak dulu.

Tak pelak, Bill pun larut dalam konflik batin yang kompleks. Sebagaimana manusia pada umumnya, siapa pun yang berada pada posisi Bill tentu akan merasa amat serba salah. Kedua pilihan tersebut tetap saja ironis jika dipilih, namun tetap realistis untuk dipilih. Namun akhirnya, Bill membuat sebuah keputusan luar biasa. Bill memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim kano nya dan lebih memilih untuk pulang ke rumah menunggui istrinya melahirkan, daripada memenuhi mimpi dan penantian panjangnya untuk mendayung di Kejuaraan Olimpiade.

Ironisnya, sepulang Bill ke AS, tim kano mereka justru menang dan meraih medali emas pertama dalam sejarah olahraga kano di Olimpiade, dan kebetulan istri Bill juga telat melahirkan sehingga pada faktanya, sebetulnya masih sempat baginya jika ingin berlaga di Olimpiade baru kembali ke rumah. Mengetahui hal ini, banyak orang yang sempat mencerca Bill dan menyebut tindakannya itu sungguh bodoh. Namun Bill dengan besar hati menjawab bahwa tidak ada penyesalan sedikit pun dalam hatinya dan dia puas dengan keputusannya, karena baginya pulang ke rumah menemani istrinya melahirkan adalah sebuah pilihan yang memiliki prioritas lebih tinggi dibanding impiannya sendiri. Bill yakin, dia telah membuat sebuah keputusan yang jauh lebih baik sepanjang hidupnya.

Kisah Bill tidak selesai sampai di sini. Sekuel ini berlanjut lebih menarik lagi, ketika 28 tahun kemudian, Bill menerima sebuah telegram dari anak lelakinya yang dinamai Frank. Telegram itu dikirim dari kota Helsinki, Finlandia, tempat di mana Olimpiade tahun 1952 diselenggarakan. Isi dari telegram itu adalah: “Ayah, aku menang! Aku membawa pulang kembali medali emas yang pernah kau korbankan dulu demi menunggui kelahiranku.” Ya! Frank Havens berhasil meraih medali emas juga dari cabang kano ketika dia mewakili AS dalam Olimpiade tersebut.


Frank Havens

Kisah di atas menunjukkan bahwa Bill sama sekali tidak sia-sia meninggalkan dayungnya untuk menggantinya dengan seorang anak lelaki, yang justru kelak dapat merebut kembali hasil yang seharusnya didapatkannya pada masa muda dulu. Penyesalan yang oleh banyak orang disebut sebagai suatu hal yang bodoh akhirnya lenyap, seiring hasil yang diterima oleh tidak hanya Bill, Frank atau ibunya, tetapi juga mereka semua, sebagai sebuah kesatuan, yaitu keluarga.

Kisah Bill mengajarkan kepada kita, betapa sebagai manusia harus bijak dan cermat dalam menentukan prioritas. Masih banyak orang yang belum mengerti apa sebetulnya syarat sebuah prioritas agar dapat dipilih melebihi prioritas lain yang juga tak kalah pentingnya. Dari kacamata psikologis, sesungguhnya syarat itu bukanlah sebuah teori yang konseptual, bukan juga sebuah absolutisme! Cukup hanya dengan menemukan kedamaian pada pilihan Anda, maka itulah prioritas tertinggi Anda.

Bill menemukan kedamaian yang lebih dalam dengan pulang menemani istrinya, daripada harus berlaga namun di satu sisi kehilangan konsentrasi akibat memikirkan istrinya. Namun sebelum Anda salah kaprah, apakah kedamaian itu juga membawa dampak yang positif bagi orang lain? Kalau tidak, itu berarti Anda telah melampaui sisi realistis Anda, dan Anda juga bukan hanya membuat pilihan yang Anda menjadi tambah ironis, tetapi Anda juga sekaligus membuat Anda sendiri menjadi sosok yang ironis..

Syarat sesungguhnya dalam hukum prioritas adalah ketika Anda dapat mengenali sisi yang lebih dominan dari sebuah pilihan, yang mana sisi dominan itulah yang menjadi penentu kedamaian yang tepat buat Anda, bukan kedamaian yang Anda cari-cari sendiri. Layaknya Bill, yang mengerti bahwa keluarga merupakan sebuah ruang yang membawa kedamaian yang paling dominan untuknya, lebih dari mimpinya mengayunkan dayung di Olimpiade. Sekarang Anda dapat yakin bahwa hasil yang diperoleh dengan prioritas yang bijak jauh lebih baik daripada hasil yang diperoleh dengan egoistis, bukan?

Akankah Anda menyebut ini sebagai sebuah kebetulan? Atau pahala? Namun sebelum menjawab pertanyaan itu, agaknya lebih tepat bagi Anda untuk menjawab dahulu, “(Cukup) beranikah Anda membuat keputusan seperti Bill?”***

Medan, 27 September 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com