"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Saturday, July 23, 2011

Berbohong demi Kesetiaan, Why Not?


Seperti apa sesungguhnya kesetiaan itu? Apakah kesetiaan itu hanya sebatas ditentukan oleh “durasi”? Semakin lama durasi tersebut, maka semakin besarkah kesetiaan? Sebetulnya semua hal adalah kembali kepada perbandingan antara kuantitas dan kualitas. Durasi hanyalah menggambarkan kuantitas, tetapi apa yang bisa dikenang selama durasi tersebut, itulah yang menentukan seberapa jauh kualitas kesetiaan yang telah berhasil dicapai. Tak ubahnya seperti sebuah kisah nyata yang terjadi pada sebuah pasangan muslim di bawah ini:

Sepasang suami istri telah menikah dan pernikahan mereka telah berjalan empat tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak pun. Dan mulailah dari kanan kiri berbisik-bisik, “Kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?” Dari berbisik-bisik, akhirnya kondisi pun berubah menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi dan menjalani pemeriksaaan. Ternyata hasil lab mengatakan bahwa kesalahan terletak pada sang istri, di mana sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun. Namun hal yang memprihatinkan adalah tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh. Dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan memiliki anak.

Mendapat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter, “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.”

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggu, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan menelaahnya, kemudian ia berkata, “Oooh, kamu–wahai fulan (lelaki)–yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar (takdir) Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan pasangan suami istri itu terus bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya, “Wahai fulan, saya telah bersabar selama sembilan tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata ‘Betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan’. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.”

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata, “Istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti…, mesti… dan mesti…” Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih.”

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan emosinya pun mulai memuncak. Ia berkata kepada suaminya, “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku terus menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini. Kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan… saya kan…”

Sang istri pun bed rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata, “Maaf, saya ada tugas ke luar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja.”

“Haah, pergi?” kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat.” kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur. Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya, “Suami apaan dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi.”

Singkat cerita, operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu bukan orang lain melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah…

Setelah sembilan bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hapalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-buka dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelepon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya. Ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telepon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya.)


Sepintas, kisah ini seakan hanya ingin menonjolkan tentang sifat mengalah, ataupun siapa yang lebih layak melindungi siapa. Artinya, selalu ada perhitungan di dalam rumah tangga. Biasanya, perhitungan ini akan muncul, apabila di dalam rumah tangga itu sedang terjadi suatu masalah atau beban yang membutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Salah satunya yaitu masalah anak! Setiap muncul beban tambahan, maka kesetiaan pun mulai dipertaruhkan, meskipun secara kasat mata, durasi bisa saja terus berjalan sebagaimana biasa.

Salah satu cara duniawi dalam mencapai kebahagiaan adalah dengan memenuhi sebanyak mungkin pilihan hidup yang begitu tidak terbatas. Sementara kesetiaan itu justru adalah kondisi di mana seluruh pilihan yang ada tidak lagi dilibatkan, melainkan hanya fokus terhadap satu objek! Ada pilihan yang mesti dilepas sebagai pengorbanan. Masalahnya, apakah sebuah pernikahan yang begitu kompleks dapat berkutat hanya pada satu objek, dan mengabaikan esensi pernikahan lainnya, yaitu anak??

Tidak ada yang dapat memungkiri, jika tujuan pernikahan yang utama adalah memiliki anak. Namun, tidak semua pernikahan memiliki keleluasaan seperti itu. Ada juga pernikahan yang memiliki keterbatasan, seperti halnya kisah di atas. Lalu apakah pernikahan menjadi sebuah kegagalan yang patut disesali, sehingga perlu adanya substitusi untuk mencapai tujuan itu? Sulit untuk direnungkan memang, sehingga kembali lagi kepada yang namanya kesetiaan.

Untuk pasangan-pasangan yang memiliki keterbatasan dalam menghasilkan keturunan, coba renungkanlah! Jika objek dari pernikahan itu adalah anak, maka keberadaan pasangan hanyalah bersifat sebagai perantara (tools). Jika objek dari pernikahan itu adalah durasi, maka keberadaan pasangan akan berdiri hanya sebagai komplimen (pelengkap). Namun, jika objek dari pernikahan itu adalah kebahagiaan, maka secara mutlak pasangan akan eksis menjadi sebuah nilai (value)!

Konsep inilah yang membuat kesetiaan memilih untuk berpatok pada durasi, properti, atau malah pada sebuah nilai! Nilai yang notabene akan tetap eksis menjadi referensi datangnya kebahagiaan, walaupun ada keterbatasan dalam hal durasi maupun properti (anak). Nilai inilah yang selayaknya menjadi prioritas dalam kelangsungan hidup pernikahan, karena nilai merupakan hal internal, sementara objek-objek yang lain hanyalah merupakan hal eksternal. Jadi buat apa pernikahan itu harus mengorbankan kepentingan internal, hanya untuk mengejar hal-hal yang bersifat eksternal? Untuk para pasangan yang memiliki keterbatasan regenerasi, tampak bahwa jauh lebih bijak dan bahagia untuk tetap fokus kepada nilai, alias pasangan sendiri, daripada mengurusi objek-objek eksternal yang sesungguhnya hanya bersifat optional! Dengan demikian, pernikahan itu tidak akan sampai terjajah oleh fungsi-fungsi maupun kepuasan temporer yang datang dari objek-objek eksternal tersebut, melebihi perhatian kepada nilai/pasangan yang bersifat permanen.

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi, bahwa sesungguhnya keterbatasan yang paling memprihatinkan dalam suatu pernikahan bukanlah tidak bisa memiliki anak, tetapi ketika salah seorang dari pasangan menggunakan objek-objek eksternal dengan terlalu mubazir untuk membatasi kelayakan kualitas dari nilai/pasangan yang sesungguhnya!***

Medan, 23 Juli 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com