"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Tuesday, April 05, 2011

Houtman Zainal Arifin, Sang OB yang Berhasil Menjadi Vice President Citibank Indonesia



Kisah suksesnya dimulai sekitar tahun 60-an, ketika Houtman memulai kariernya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, bergelut dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah untuk menjajakan dagangannya.

Namun, kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Pada suatu waktu, ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaraan-kendaraan mewah yang berseliweran di salah satu ruas jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut terlihat berpakaian rapi, keren dan berdasi. Sontak terbersit dalam benak Houtman remaja untuk bisa menjadi seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad ditanamkan dalam hatinya.

Tekad yang kuat dari Houtman telah mendorongnya ingin segera mengubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka dengan pasti dia akan segera mengirimkan surat lamaran kerja. Untuk membiayai setiap lamaran kerjanya, Houtman pun menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan.

Sampai akhirnya, Houtman pun mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di dunia, The First National City Bank (Citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang office boy, sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, WC, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Meski begitu, Houtman tetap bangga dengan jabatannya. Dia tidak pernah menampik pekerjaan. Dia pun menerima jabatan tersebut sambil memendam cita-citanya yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasibnya akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi seseorang yang berbeda.

Sebagai office boy, Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Dia bahkan rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai, Houtman selalu berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya-tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah-istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin pikiran yang terlintas dalam benak pegawai adalah, ”Ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja.” Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit menjadi familiar dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dan lain-lain.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photocopy). Ketika itu mesin fotokopi masih sangat langka. Hanya perusahaan-perusahaan tertentu yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap jam 4 sore setelah pekerjaannya selesai, Houtman sering mendatangi mesin tersebut dan meminta kepada petugas fotokopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin fotokopi, dan tanpa disadarinya pintu pertama bagi masa depannya pun terbuka. Pernah suatu kali petugas mesin fotokopi itu berhalangan kerja dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya. Sejak saat itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Petugas Fotokopi.

Menjadi tukang fotokopi tentu merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Di sela-sela kesibukannya Houtman terus berusaha menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman sempat tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf balik tertegun terhadapnya. “Bener nih lu mau bantuin gua?” Begitulah Houtman mengenang ucapan sang staf dulu. “Iya, bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu,” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya nggak boleh salah. Kalau salah tanggung jawab lu, bisa dipecat lo,” sang staf mewanti-wanti dengan keras.

Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen dan tugas dia adalah membubuhkan stempel pada cek, bilyet giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom dan tidak boleh menyimpang atau keluar dari kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekadar mengecap, tetapi dia juga membaca dan mempelajari seluruh dokumen yang melewati genggaman tangannya. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit mulai memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Pengetahuannya inilah yang kelak membawa Houtman sampai kepada jabatan yang tidak pernah diduganya sama sekali.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staf dan atasannya, sehingga para staf pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah seorang lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai bank menjadi berita luar biasa yang heboh dan kontroversial. Orang-orang berpikir bagaimana bisa seorang OB menjadi staf, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak berkomitmen. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “Jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga,” begitu rekan sesama OB Houtman menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat tekadnya goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya bantuanlah yang bisa dikontribusikan oleh Houtman, karena materi tidak dia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru, sehingga karier Houtman melesat bak anak panah meninggalkan rekan sesama OB, bahkan staf yang pernah mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian, sejak Houtman masuk sebagai office boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu President Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB namun pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan yang pernah diembannya, seperti menjadi staf ahli Citibank untuk regional Asia Pasifik, menjadi penasihat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.


Houtman bersama dengan istri tercinta

Kisah Houtman telah membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dicapai selama yang bersangkutan memiliki semangat dan kemauan untuk belajar dan berusaha. Banyak orang yang justru menganggap bahwa keberhasilan maupun jabatan bergengsi akan datang seiring dengan masa kerja yang dijalaninya. Ini adalah persepsi umum yang banyak hinggap di kalangan pekerja di Indonesia. Jelas, persepsi ini adalah salah, karena masa kerja tidak akan menjamin apa-apa, karena waktu itu ada bukan untuk sekadar dipercaya, tetapi untuk diolah.

Dunia terus berubah dengan berbagai perkembangannya. Jika tidak ada pembelajaran, maka percayalah bahwa Anda akan tertinggal. Asumsikan saja jika saat ini seseorang itu pintar dan cakap dengan segudang kemampuan yang dimilikinya, tetapi apakah untuk waktu 5 tahun yang akan datang, dengan kemampuannya yang sekarang orang itu masih layak untuk disebut pintar? Tentu tidak, karena kemampuan dan wawasannya sudah tidak relevan dengan perubahan yang terjadi.

Begitupun, masih banyak orang yang gengsi dalam bertanya maupun belajar. Ada yang merasa bahwa dengan bertanya kepada orang lain, maka dia akan tampak bodoh dan disepelekan. Ada pula yang enggan untuk berbagi ilmu karena takut dirinya akan tersaingi. Tetapi demi sebuah cita-cita yang memang Anda idamkan, apakah Anda masih layak untuk peduli terhadap hal-hal emosional seperti ini?

Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika Anda serius untuk belajar dan berusaha, tetapi jangan berharap sesuatu akan terjadi jika Anda sama sekali tidak melakukan sesuatu, alias hanya menunggu mukjizat terjadi. Albert Einstein telah mengatakan, “Definisi dari kegilaan adalah melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.” Jadi putuskan sekarang, jalur mana yang akan Anda pilih? Repeating or improving?

Last quote dari saya, “People who do not learn are definitely people who will not earn in return.” Salam sukses!***

Medan, 05 April 2011