"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Saturday, March 26, 2011

Filosofi Cinta dan Pernikahan



Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, "Apa itu cinta? Bagaimana aku menemukannya?”

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?"

Plato menjawab, "Karena sesuai perkataan Guru, aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.”

“Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatang pun pada akhirnya."

Gurunya kemudian menjawab, "Jadi ya, itulah cinta."

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu pernikahan? Bagaimana aku bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab, "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon itu bukanlah pohon yang segar/subur, dan juga tidak terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir seluruh ladang, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya, itulah pernikahan."



Refleksi:

Banyak orang yang belum betul-betul memahami arti cinta dan pernikahan secara memadai. Bahkan tidak sedikit orang yang menyamakan kedua hal tersebut, padahal keduanya memiliki konsep dan tujuan yang berbeda. Alan King—seorang komedian terkenal dari AS—mengatakan, "If you want to read about love and marriage, you've to buy two separate books." Ini menunjukkan bahwa cinta dan pernikahan butuh pendekatan yang berbeda, baik dari segi pemahaman maupun pelaksanaan nantinya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta dan pernikahan adalah dua fase yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Namun pada kenyataannya, justru manusia melewati fase percintaan dengan frekuensi yang jauh lebih banyak dari pernikahan. Sekilas jenguk, kesannya seolah-olah cinta itu adalah sesuatu hal yang (lebih) mudah untuk dijalani. Pernyataan ini bisa saja benar, namun bisa juga salah, tergantung alasan orang yang menjalaninya. Terlepas dari semua itu, ada satu alasan yang dapat menjelaskan kesenjangan frekuensi antara cinta dan pernikahan dengan amat sangat tepat, yaitu cinta dapat dijalani dengan validasi yang lebih sederhana daripada pernikahan. Bahkan, bisa saja tanpa diikuti validasi sama sekali.

Sementara itu, pernikahan sendiri memiliki lebih banyak dampak sosial (social effect) yang mengikutinya. Dampak sosial itu dapat mempengaruhi persepsi keluarga, tetangga bahkan lingkungan secara umum. Di samping itu, pernikahan juga memiliki dasar hukum yang valid. Tapi apakah karena prosedur pernikahan yang memang lebih ribet, lantas membuat manusia menjadi mengabaikan esensi hubungan itu sendiri?

Dari kisah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa cinta dan pernikahan itu sesungguhnya adalah dua entitas yang berbeda. Cinta bisa saja menjadi dasar dari pernikahan, tetapi itu bukanlah satu-satunya tujuan akhir. Sesekali, cinta dapat menjadi suatu hal yang labil, karena cinta sering diposisikan sebagai eksperimen. Itulah sebabnya, Plato bereksperimen dengan menjelajahi seluruh ladang gandum, dengan harapan akan mendapatkan kepuasan yang jauh lebih tinggi. Namun gurunya yang bijak telah menyadari ini dan sengaja mengantisipasi muridnya dengan melarangnya untuk berbalik ke belakang. Maka bayangkanlah, apa jadinya jika seluruh eksperimen itu tidak dapat dibalik atau diulang? Konsekuensinya adalah kehampaan.

Menurut penjasalan yang tergabung dalam kisah di atas,cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika muncul pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tiada sesuatu pun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Pernikahan adalah kelanjutan dari cinta, adalah proses mendapatkan kesempatan. Ketika Anda mencari yang terbaik di antara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan pernikahan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Ada ungkapan bahwa menikah dengan seseorang yang Anda cintai sangatlah indah, tetapi akan lebih menakjubkan jika Anda mencintai orang yang Anda nikahi. Ungkapan ini menggambarkan bahwa pernikahan itu bukan sebuah vonis. tetapi sebuah kesempatan untuk "menikmati" penyesuaian. Ya, setiap penyesuaian mesti "dinikmati", bukan untuk diperhitungkan! Dengan demikian, pernikahan akan jauh dari unsur eksperimen, yang berpotensi membuat Anda melakukan pengulangan. Namun, jika Anda sudah memahami ini sejak Anda mulai menjalani yang namanya cinta, maka percayalah, hubungan Anda akan lebih dari sekadar formalitas.

Semoga review ini bermanfaat bagi Anda semua. Salam metta!***

Medan, 26 Maret 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com