"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Wednesday, March 30, 2011

Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta Rupiah untuk Anak Yatim Piatu



Namanya Bai Fang Li. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang menaiki becaknya. Mengantarkan ke mana saja tempat yang diinginkan pelanggannya, dengan imbalan uang sekadarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Aktivitasnya sudah dimulai jam enam pagi, terlebih dulu bersekutu dengan Tuhan dalam doa. Setelah itu, maka pengabdiannya terhadap jasa pengantaran pun dimulai di atas becaknya. Seharian mengayuh, biasanya dia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena dia adalah pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan dia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itulah, banyak orang yang menggunakan jasanya justru membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil (bahkan tergolong ringkih) itu, dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.


Bai Fang Li tinggal di sebuah gubuk reot yang nyaris mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itu pun bukan miliknya, karena dia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat di mana dia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil di mana dia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat. Di ruang itu juga dia menerima tamu yang butuh bantuannya. Di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah di mana biasa dia makan, serta ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam mulai turun.

Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Orang-orang hanya tahu bahwa dia adalah seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah dia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya dia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya dia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan ini juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.


Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika dia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan menjinjing beban berat di pundaknya, namun anak itu tetap semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, dia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu bergumam. Mungkin dia sedang mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali Li memperhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian dia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, lalu mengais-ngais seluruh isi yang ada, dan sewaktu dia menemukan sepotong roti kecil yang kotor, dia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah-olah itu adalah makanan yang turun dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, lalu dia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Dia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. Pada akhirnya, Li menemukan jawabannya.

“Uang yang saya dapat adalah untuk dibelikan makanan adik-adik saya,” jawab anak itu.

“Orang tuamu di mana?” tanya Li.

“Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah kembali lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil,” sahut anak itu.

Li meminta anak itu mengantarnya melihat kedua adik anak lelaki yang bernama Wang Ming itu. Hati Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Ming, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu tampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang-camping.

Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu peduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah. Jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga saja mereka kesulitan.

Li kemudian membawa ketiga anak itu ke yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin . Pada pengurus yayasan itu Li mengatakan bahwa setiap hari dia akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak, dan juga mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam enam pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya dia sumbangkan ke yayasan yatim piatu itu, untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Dia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, di tengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila dia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang terkoyak dengan kain yang berbeda warna. “Mhmmm… tapi masih cukup bagus…,” gumamnya senang.

Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa peduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah terpaan badai salju yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang terasa sangat menyengat tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa dia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa peduli dengan dirinya sendiri.

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Dia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Dia juga tidak pernah tahu siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapi dalam suatu kotak dan menyerahkannya ke sekolah Yao Hua.

Dia berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan,” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.


Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun. Dia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, di sepanjang hidupnya dia telah menyumbangkan uang sebesar RMB 350,000 (dengan asumsi kurs Rp 1,300, setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.***

Medan, 30 Maret 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com