"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Tuesday, December 27, 2011

Kisah Nyata tentang Seorang Pramugari dan Kakek Tua dari Desa



Bagaimana jadinya jika seorang wanita modern yang bekerja pada lingkungan high class berjumpa dengan seorang kakek tua yang berasal dari desa? Mungkin hal yang melintas di benak kita adalah adanya semacam unsur penghinaan ataupun pembunuhan karakter yang bersifat melecehkan, meremehkan ataupun memandang sepele. Apakah betul kemewahan dan kesederhanaan adalah dua kutub yang tidak pernah dapat bersanding dalam kehidupan dewasa ini? Ikuti cerita nyata di bawah ini, dan Anda akan menemukan sebuah pelajaran yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airlines, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan. Setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton. Namun pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan drastis pada pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking. Penumpang sangat penuh hari ini. Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, menggotong sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Saat itu saya sedang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama yang muncul dari pikiran saya adalah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Ketika melewati baris ke-20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa. Dengan terkejut dia melambaikan tangan tanda menolak. Bahkan ketika kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya. Lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang. Menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya. Saat kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit. Dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, dia takut merusak barang di dalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya. Kami lalu meminta seorang pramugara untuk mengantar dia ke toilet. Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Dengan tidak bertanya lagi, kami meletakkan segelas minuman teh di mejanya. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan tergesa-gesa dia mengatakan, “Tidak usah, tidak usah.” Kami mengatakan, “Engkau sudah haus, minumlah.” Pada saat itu, dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam lalu disodorkan kepada kami. Kami lalu menjelaskan kepadanya bahwa minumannya gratis, namun dia tidak percaya. Katanya saat dia merasa haus dalam perjalanan menuju bandara dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan, dia tidak diladeni dan malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawanya sangat sedikit. Itulah sebabnya dia hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan dan itu pun ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia, akhirnya dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh. Kami kembali menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota, tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota dan akhirnya pindah kembali ke desa. Pada perjalanan kali ini, orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, namun anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan diri untuk menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal sehingga dia bersikeras untuk pergi sendiri. Dengan sangat terpaksa keinginan bapaknya itu disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi dia bersikeras untuk membawanya sendiri. Katanya jika ditaruh di tempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Akhirnya kami membujuknya untuk meletakkan karung tersebut dalam bagasi di atas tempat duduk, dan dia pun bersedia, dengan hati-hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar. Namun saat pesawat hendak mendarat, dengan suara kecil dia menanyakan kepada saya apakah ada kantongan kecil. Dia lalu meminta saya untuk meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, jadi dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget!

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, tetapi di mata seseorang yang berasal desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya. Dengan terharu kami lalu mengumpulkan seluruh sisa makanan yang belum kami bagikan kepada penumpang lalu ditaruh di dalam sebuah kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut. Namun sungguh di luar dugaan, dia malah menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan dan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan lurus dan tulus tersebut benar-benar membuat saya sangat terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat. Sebelum keluar dia melakukan suatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya. Dia jatuh berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang pernah dijumpai. “Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan melayani saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.” Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya, lalu menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya untuk keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, dari yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi saya belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami seperti kakek tua itu. Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami demi mengucapkan terima kasih. Sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar dia rela menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya. Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya di masa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.


Di tengah arus kehidupan yang begitu modern dan di mabuk kemewahan, ke mana lagi kita dapat menjumpai manusia dengan nilai ketulusan yang begitu luar biasa? Bahkan rasanya, setiap interaksi yang terpapar di depan kita, semuanya tak lepas dari prinsip take and give, atau saya lebih suka menyebutnya buy and sell. Selalu ada pamrih yang mengikut di belakang, jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang kita mau, atau jika kita diminta untuk membantu orang lain.

Namun kisah di atas telah menyadarkan orang-orang yang tenggelam dalam kemewahan, bahwa nilai kemuliaan yang sebenarnya bukan terletak pada seberapa banyak aset yang dimiliki, tetapi pada seberapa jauh manusia dapat mempraktikkan nilai itu tanpa bergantung pada aset yang dimilikinya. Sayang, kendala terbesar yang dihadapi oleh kaum manusia modern adalah keengganan untuk meninggalkan ikatan materialistis dan kesenangan duniawi, apalagi jika ikatan itu dihubungkan dengan konsep emosional seperti cinta dan kasih sayang.

Kisah di atas menjadi buktinya, bahwa kasih sayang yang tulus ternyata belum punah dari muka bumi ini, meskipun itu datang dari seorang ayah kepada anaknya. Dapatkah di antara kita mempraktikkan nilai seperti di atas bukan hanya kepada keluarga kita, tetapi juga kepada lingkungan sekitar seperti teman-teman, pasangan atau bahkan kepada orang-orang yang membutuhkan? Cukup relakah kita? Cukup muliakah kita? Silakan Anda yang memutuskan, apakah Anda lebih terikat kepada nilai, atau harga!***

Medan, 27 Desember 2011

Monday, October 03, 2011

Lee Myung-bak, Presiden Murah Hati dari Keluarga Melarat



Menjadi presiden dari sebuah negara maju, tentu bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi jika sang pemangku jabatan puncak itu adalah seseorang yang dulunya berasal dari keluarga miskin yang amat menderita kehidupannya. Ironis memang, seakan-akan pungguk yang sedang merindukan bulan. Namun Lee, seorang pemuda yang punya tekad keras, dapat membuktikan kepada dunia, bahwa dia telah sukses membangun revolusi taraf hidupnya, yang awalnya hanya berasal dari sebuah mimpi.

Siapa yang menyangka bahwa Lee yang notabene seorang presiden pernah punya pengalaman kehidupan yang amat memprihatinkan? Terlahir di Osaka, Jepang, tahun 1941, Lee kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Orang tuanya hanyalah bekerja sebagai buruh tani. Masa kecilnya tidak seperti kebanyakan kanak-kanak yang dapat dengan gembira merealisasikan keinginannya, ataupun sempat meluangkan sedikit saja waktu untuk bersantai. Saat masih kecil, Lee hanyalah seorang pengonsumsi ampas gandum untuk makan sehari-hari. Pagi harinya, Lee memakan ampas gandum untuk sarapan. Sedangkan siangnya, karena keterbatasan uang, Lee pun memilih untuk mengganjal perutnya hanya dengan air putih. Malamnya, barulah Lee kembali memakan ampas gandum yang sudah dia makan berkali-kali pada waktu sebelumnya.

Lalu, janganlah Anda mengira bahwa ampas gandum itu adalah hasil dari keluarganya sendiri. Ampas gandum itu sendiri pun mereka peroleh dari sisa penyulingan minuman keras. Jadi dengan kata lain, Lee hanyalah seorang pengonsumsi sampah pada masa kecilnya. Sebuah masa kecil yang amat sangat suram, bukan? Jauh dari kelimpahan materi dan kelucuan mainan kanak-kanak.

Beranjak remaja, Lee mulai mengeksplorasi kemandiriannya dengan menjadi pedangan asongan. Lee mengasong makanan dan es krim untuk membantu ekonomi keluarganya. “Tak terpikir bisa bawa makan siang untuk di sekolah,” sebut Lee dalam otobiografinya yang berjudul “There is No Myth” yang diterbitkan kali pertama pada 1995.

Meski tenggelam dalam laut kemiskinan yang amat sangat membatasi hidupnya, justru di saat inilah Lee memunculkan mimpi pertamanya, yaitu menempuh pendidikan tinggi untuk memperbaiki taraf hidupnya. Untuk itulah, Lee kemudian belajar keras agar bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Pada akhir tahun 1959, keluarga Lee pindah ke Seoul dengan tujuan mencari penghidupan yang lebih baik. Namun nasib orang tuanya pun belum banyak berubah, dengan hanya menjadi pedagang sayur di jalanan. Saat itu pula, Lee mulai lepas dari orang tuanya dan bekerja sebagai buruh bangunan.”Mimpi saya saat itu adalah bisa menjadi pegawai,” kisahnya dalam otobiografi.

Mimpi Lee pun berlanjut. Selepas SMA, karena prestasi akademiknya bagus, Lee pun berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk menanggung biaya kuliahnya, Lee kemudian bekerja sebagai tukang sapu jalan. Pada saat kuliah inilah, Lee memulai debut politiknya dengan terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa dan ikut dalam demo antipemerintah yang berlangsung saat itu. Alhasil, karena aksinya ini Lee pun dikenakan hukuman penjara percobaan pada 1964.

Apesnya, vonis hukuman ini kemudian malah membuatnya tidak bisa diterima sebagai karyawan di Hyundai Group. Pihak Hyundai Group cukup beralasan atas penolakan ini, karena mereka kuatir pemerintah akan berang bila Lee diterima di perusahaan itu. Namun demi mewujudkan mimpinya, Lee lantas menempuh jalur korespondensi langsung kepada kantor kepresidenan. Dalam surat itu Lee memelas berharap agar pemerintah tidak menghancurkan masa depannya. Surat Lee itu sampai kepada sekretaris presiden dan sangat menyentuh, sehingga akhirnya beliau memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.

Di Hyundai inilah, Lee memulai debut karier profesionalnya. Dan akhirnya mimpi pertama Lee berhasil diwujudkan, yaitu menjadi pegawai. Lee menunjukkan bakatnya yang gemilang dalam bekerja, sampai-sampai dia dijuluki “buldozer” oleh rekan kerjanya karena dianggap selalu mampu menyelesaikan semua persoalan yang muncul. Salah satu aksinya yang fenomenal adalah mempreteli habis sebuah buldozer untuk mempelajari cara kerja mesinnya. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Kemampuan Lee mengundang kekaguman dari pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi dari pimpinannya itu, karier Lee terus melesat bagai anak panah. Lee akhirnya berhasil bisa menduduki posisi puncak di divisi konstruksi, meskipun masa kerjanya hanya mencapai 10 tahun. Divisi inilah yang kemudian menjadi fondasi utama kesuksesan Hyundai pada periode tahun 1970 – 1980, di mana Korea Selatan saat itu juga tengah mengalami booming ekonomi yang sangat marak.

30 tahun bekerja di Hyundai, akhirnya Lee terjun ke ranah politik dengan menjadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian pada tahun 2002, Lee terpilih menjadi Walikota Seoul, kota yang pernah menjadi saksi kemelaratan hidupnya. Dan puncaknya adalah pada tahun 2007, Lee yang dulunya hanyalah seorang miskin akhirnya menjadi orang nomor satu di Korea Selatan. Dan Lee telah membuka mata dunia, bahwa kemiskinan bukanlah pembatas untuk menjadi sukses, tetapi sesungguhnya pembatas terbesar manusia adalah ketakutan mereka sendiri, yang akhirnya membuat manusia menjadi kehilangan daya juang.

Kisah inspiratif Lee tidak berhenti sampai di sini. Sejak Lee berhasil menjadi presiden, Lee kemudian mendonasikan 80% dari kekayaannya (senilai USD 26 juta atau Rp 267,8 milyar) kepada yayasan Lee Myung-bak-Kim Yoon-ok. Yayasan ini diambil dari nama Lee sendiri dan istrinya. Fokus yayasan tersebut adalah untuk memberikan beasiswa pendidikan dan bantuan kemanusiaan bagi yang membutuhkan. Tindakan dermawan Lee ini menjadi sejarah baru dalam dunia politik Korea Selatan. “Saya mengetahui bahwa cara terbaik untuk membayar kebaikan itu, yaitu memberikan apa yang saya miliki kepada masyarakat,” ungkapnya. Sumbangan ini memang merupakan janji-janji yang dilontarkan Lee ketika kampanye, sekaligus membuktikan bahwa seorang gentleman adalah orang yang tidak akan pernah menciptakan jarak antara janji dan realisasi. Seberapa jauh kita dapat melihat bukti seperti ini di Indonesia?

Lee mengungkapkan, donasi tersebut telah dipikirkan sejak lama. Ternyata istri dan empat anaknya juga mendukung keputusan tersebut. “Saya bekerja keras untuk mendapatkan uang itu. Aset itu sangat berharga bagi saya. Tapi, saya berharap uang tersebut dapat digunakan untuk orang lain,” ujar Lee. “Tanpa pencapaian yang menakjubkan dilakukan rakyat terhadap negara besar ini, seorang lelaki dari keluarga yang miskin tidak akan pernah menjadi presiden negara ini,” tandasnya.

Bukan kali ini saja Lee menyumbangkan kekayaan kepada orang yang kurang beruntung. Sejak menduduki kursi kepresidenan pada Februari 2008, Lee menyumbangkan seluruh gajinya sebagai Presiden senilai 14 juta won (sekitar Rp 112,9 milyar) kepada rakyat yang berpenghasilan rendah. Dengan tingkat kepedulian sosial Lee yang begitu tinggi, pantas jika dia dijuluki sebagai presiden paling murah hati sedunia. Sebab presiden mana yang (cukup) berani untuk mengikuti jejaknya di tengah era sentralisasi kepentingan saat ini?

Dan lagi, jika Lee saja yang dulunya hanyalah seorang miskin dapat memperoleh kesuksesan hidup setinggi ini, apalagi yang membuat Anda membatasi diri Anda? Terlepas siapa pun diri Anda, apakah Anda sudah bermimpi hari ini? Semoga menginspirasi!***

Medan, 10 Oktober 2011

Tuesday, September 27, 2011

Bill Havens and The Law of Priority


“Not everybody has the strength of character to say no to something he or she truly wants in order to say yes to something that truly matters”


Saya pernah membaca sebuah quote tentang leadership yang intinya mengatakan bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah seni yang dilatih untuk dapat dengan berani mengatakan tidak! Tentu saja, “tidak” dalam hal ini bukan berupa sebuah pembangkangan, tetapi maksudnya adalah sebagaimana quote yang saya cantumkan di judul tulisan ini, yaitu berani menentang demi mengalihkan risiko atau untuk memperoleh hasil yang lebih baik.


Membuat sebuah afirmasi, atau dengan kata lain mengatakan “ya”, diklaim sebagai sebuah hal yang lazim gampangnya. Anak kecil dapat dengan mudah mengatakan “ya” terhadap semua pilihan yang ditawarkan kepadanya. Karena apa? Karena mereka sama sekali belum mengenal yang namanya risiko! Itu sebabnya, anak kecil dapat dengan mudah bercita-cita setinggi langit seenak angannya, tanpa mempertimbangkan sisi realistis yang notabene merupakan akumulasi risiko dari kehidupan. Semakin realistis Anda, maka semakin banyak risiko yang Anda hindari.

Sebagai orang dewasa, tidak berarti kita lebih bijak dari anak kecil dalam menyikapi sisi realistis dari sekian banyaknya pilihan yang menantang kita. Kita dapat saja mengiyakan seluruh hal, tetapi seberapa banyak hal yang kita iyakan tersebut juga sekaligus dapat memberi efek positif yang setara? Tentu tidak ada yang bisa menjamin, bukan? Hal inilah yang kemudian mensyaratkan adanya pertimbangan dalam ilmu kepemimpinan, dan ketika pertimbangan itu akhirnya bermuara kepada sebuah negasi, maka seorang pemimpin wajib berani untuk mengatakan TIDAK!

Namun, hal di atas masih amat sangat sederhana, jika kita hanya berani menolak sesuatu yang memang tidak baik, atau tidak dapat mendatangkan hasil baik. Bagaimana jika kita dihadapkan pada lebih dari satu pilihan, dan seluruh pilihan itu adalah hal yang dijamin dapat memberikan hasil positif, namun alangkah sedihnya ketika kita diwajibkan untuk mengambil hanya satu pilihan? Bukankah hal itu sangat sulit? Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk dapat memilih dengan bijak dan terbaik bagi semua orang? Perlukah adanya pengorbanan di situ? Mari kita simak kisah nyata yang terjadi pada Bill Havens, seorang atlet kano dari AS yang telah mengubah cara pandang dunia, dan mungkin cara pandang Anda sendiri dengan cara dia dalam menentukan pilihan!

Dikisahkan pada Olimpiade Paris tahun 1924, pertama kalinya olahraga cabang kano dimasukkan dalam cabang yang diperlombakan dalam kompetisi seantero Bumi itu. Pada saat itu, tim yang paling diunggulkan adalah tim yang berasal dari Amerika Serikat, yang mana salah seorang pesertanya adalah atlet muda yang bernama Bill Havens.

Menjelang dimulainya pesta olahraga terbesar di jagat raya itu, bersamaan pula istri Bill akan melahirkan anaknya yang pertama. Saat itu, tim AS termasuk Bill sudah berada dalam karantina dan akan mulai bertanding di cabang kano, sehingga selang waktu yang dapat dimanfaatkan sangatlah tipis, apalagi pada masa itu belum ada pesawat terbang seperti sekarang ini, dan perjalanan dari AS ke Paris hanya dapat ditempuh dengan kapal pesiar berkecepatan rendah.

Jadilah hal itu sebuah dilema besar bagi Bill. Apakah dia harus meninggalkan istrinya ketika melahirkan anak pertamanya dan pergi ke Paris demi mewujudkan mimpinya untuk bertanding di kompetisi Olimpiade? Atau malah dia mengundurkan diri dari tim dan pulang kembali ke rumah untuk menemani istrinya sambil menyambut kelahiran anak pertamanya? Tentu saja, sebagai seorang istri yang mendukung karier suaminya, istrinya menyarankan agar Bill tetap ikut berkompetisi, sebagaimana hal itu adalah mimpi dan penantian panjang Bill yang paling dia idam-idamkan sejak dulu.

Tak pelak, Bill pun larut dalam konflik batin yang kompleks. Sebagaimana manusia pada umumnya, siapa pun yang berada pada posisi Bill tentu akan merasa amat serba salah. Kedua pilihan tersebut tetap saja ironis jika dipilih, namun tetap realistis untuk dipilih. Namun akhirnya, Bill membuat sebuah keputusan luar biasa. Bill memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim kano nya dan lebih memilih untuk pulang ke rumah menunggui istrinya melahirkan, daripada memenuhi mimpi dan penantian panjangnya untuk mendayung di Kejuaraan Olimpiade.

Ironisnya, sepulang Bill ke AS, tim kano mereka justru menang dan meraih medali emas pertama dalam sejarah olahraga kano di Olimpiade, dan kebetulan istri Bill juga telat melahirkan sehingga pada faktanya, sebetulnya masih sempat baginya jika ingin berlaga di Olimpiade baru kembali ke rumah. Mengetahui hal ini, banyak orang yang sempat mencerca Bill dan menyebut tindakannya itu sungguh bodoh. Namun Bill dengan besar hati menjawab bahwa tidak ada penyesalan sedikit pun dalam hatinya dan dia puas dengan keputusannya, karena baginya pulang ke rumah menemani istrinya melahirkan adalah sebuah pilihan yang memiliki prioritas lebih tinggi dibanding impiannya sendiri. Bill yakin, dia telah membuat sebuah keputusan yang jauh lebih baik sepanjang hidupnya.

Kisah Bill tidak selesai sampai di sini. Sekuel ini berlanjut lebih menarik lagi, ketika 28 tahun kemudian, Bill menerima sebuah telegram dari anak lelakinya yang dinamai Frank. Telegram itu dikirim dari kota Helsinki, Finlandia, tempat di mana Olimpiade tahun 1952 diselenggarakan. Isi dari telegram itu adalah: “Ayah, aku menang! Aku membawa pulang kembali medali emas yang pernah kau korbankan dulu demi menunggui kelahiranku.” Ya! Frank Havens berhasil meraih medali emas juga dari cabang kano ketika dia mewakili AS dalam Olimpiade tersebut.


Frank Havens

Kisah di atas menunjukkan bahwa Bill sama sekali tidak sia-sia meninggalkan dayungnya untuk menggantinya dengan seorang anak lelaki, yang justru kelak dapat merebut kembali hasil yang seharusnya didapatkannya pada masa muda dulu. Penyesalan yang oleh banyak orang disebut sebagai suatu hal yang bodoh akhirnya lenyap, seiring hasil yang diterima oleh tidak hanya Bill, Frank atau ibunya, tetapi juga mereka semua, sebagai sebuah kesatuan, yaitu keluarga.

Kisah Bill mengajarkan kepada kita, betapa sebagai manusia harus bijak dan cermat dalam menentukan prioritas. Masih banyak orang yang belum mengerti apa sebetulnya syarat sebuah prioritas agar dapat dipilih melebihi prioritas lain yang juga tak kalah pentingnya. Dari kacamata psikologis, sesungguhnya syarat itu bukanlah sebuah teori yang konseptual, bukan juga sebuah absolutisme! Cukup hanya dengan menemukan kedamaian pada pilihan Anda, maka itulah prioritas tertinggi Anda.

Bill menemukan kedamaian yang lebih dalam dengan pulang menemani istrinya, daripada harus berlaga namun di satu sisi kehilangan konsentrasi akibat memikirkan istrinya. Namun sebelum Anda salah kaprah, apakah kedamaian itu juga membawa dampak yang positif bagi orang lain? Kalau tidak, itu berarti Anda telah melampaui sisi realistis Anda, dan Anda juga bukan hanya membuat pilihan yang Anda menjadi tambah ironis, tetapi Anda juga sekaligus membuat Anda sendiri menjadi sosok yang ironis..

Syarat sesungguhnya dalam hukum prioritas adalah ketika Anda dapat mengenali sisi yang lebih dominan dari sebuah pilihan, yang mana sisi dominan itulah yang menjadi penentu kedamaian yang tepat buat Anda, bukan kedamaian yang Anda cari-cari sendiri. Layaknya Bill, yang mengerti bahwa keluarga merupakan sebuah ruang yang membawa kedamaian yang paling dominan untuknya, lebih dari mimpinya mengayunkan dayung di Olimpiade. Sekarang Anda dapat yakin bahwa hasil yang diperoleh dengan prioritas yang bijak jauh lebih baik daripada hasil yang diperoleh dengan egoistis, bukan?

Akankah Anda menyebut ini sebagai sebuah kebetulan? Atau pahala? Namun sebelum menjawab pertanyaan itu, agaknya lebih tepat bagi Anda untuk menjawab dahulu, “(Cukup) beranikah Anda membuat keputusan seperti Bill?”***

Medan, 27 September 2011

Saturday, July 23, 2011

Berbohong demi Kesetiaan, Why Not?


Seperti apa sesungguhnya kesetiaan itu? Apakah kesetiaan itu hanya sebatas ditentukan oleh “durasi”? Semakin lama durasi tersebut, maka semakin besarkah kesetiaan? Sebetulnya semua hal adalah kembali kepada perbandingan antara kuantitas dan kualitas. Durasi hanyalah menggambarkan kuantitas, tetapi apa yang bisa dikenang selama durasi tersebut, itulah yang menentukan seberapa jauh kualitas kesetiaan yang telah berhasil dicapai. Tak ubahnya seperti sebuah kisah nyata yang terjadi pada sebuah pasangan muslim di bawah ini:

Sepasang suami istri telah menikah dan pernikahan mereka telah berjalan empat tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak pun. Dan mulailah dari kanan kiri berbisik-bisik, “Kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?” Dari berbisik-bisik, akhirnya kondisi pun berubah menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi dan menjalani pemeriksaaan. Ternyata hasil lab mengatakan bahwa kesalahan terletak pada sang istri, di mana sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun. Namun hal yang memprihatinkan adalah tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh. Dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan memiliki anak.

Mendapat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter, “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.”

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggu, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan menelaahnya, kemudian ia berkata, “Oooh, kamu–wahai fulan (lelaki)–yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar (takdir) Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan pasangan suami istri itu terus bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya, “Wahai fulan, saya telah bersabar selama sembilan tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata ‘Betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan’. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.”

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata, “Istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti…, mesti… dan mesti…” Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih.”

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan emosinya pun mulai memuncak. Ia berkata kepada suaminya, “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku terus menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini. Kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan… saya kan…”

Sang istri pun bed rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata, “Maaf, saya ada tugas ke luar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja.”

“Haah, pergi?” kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat.” kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur. Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya, “Suami apaan dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi.”

Singkat cerita, operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu bukan orang lain melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah…

Setelah sembilan bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hapalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-buka dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelepon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya. Ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telepon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya.)


Sepintas, kisah ini seakan hanya ingin menonjolkan tentang sifat mengalah, ataupun siapa yang lebih layak melindungi siapa. Artinya, selalu ada perhitungan di dalam rumah tangga. Biasanya, perhitungan ini akan muncul, apabila di dalam rumah tangga itu sedang terjadi suatu masalah atau beban yang membutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Salah satunya yaitu masalah anak! Setiap muncul beban tambahan, maka kesetiaan pun mulai dipertaruhkan, meskipun secara kasat mata, durasi bisa saja terus berjalan sebagaimana biasa.

Salah satu cara duniawi dalam mencapai kebahagiaan adalah dengan memenuhi sebanyak mungkin pilihan hidup yang begitu tidak terbatas. Sementara kesetiaan itu justru adalah kondisi di mana seluruh pilihan yang ada tidak lagi dilibatkan, melainkan hanya fokus terhadap satu objek! Ada pilihan yang mesti dilepas sebagai pengorbanan. Masalahnya, apakah sebuah pernikahan yang begitu kompleks dapat berkutat hanya pada satu objek, dan mengabaikan esensi pernikahan lainnya, yaitu anak??

Tidak ada yang dapat memungkiri, jika tujuan pernikahan yang utama adalah memiliki anak. Namun, tidak semua pernikahan memiliki keleluasaan seperti itu. Ada juga pernikahan yang memiliki keterbatasan, seperti halnya kisah di atas. Lalu apakah pernikahan menjadi sebuah kegagalan yang patut disesali, sehingga perlu adanya substitusi untuk mencapai tujuan itu? Sulit untuk direnungkan memang, sehingga kembali lagi kepada yang namanya kesetiaan.

Untuk pasangan-pasangan yang memiliki keterbatasan dalam menghasilkan keturunan, coba renungkanlah! Jika objek dari pernikahan itu adalah anak, maka keberadaan pasangan hanyalah bersifat sebagai perantara (tools). Jika objek dari pernikahan itu adalah durasi, maka keberadaan pasangan akan berdiri hanya sebagai komplimen (pelengkap). Namun, jika objek dari pernikahan itu adalah kebahagiaan, maka secara mutlak pasangan akan eksis menjadi sebuah nilai (value)!

Konsep inilah yang membuat kesetiaan memilih untuk berpatok pada durasi, properti, atau malah pada sebuah nilai! Nilai yang notabene akan tetap eksis menjadi referensi datangnya kebahagiaan, walaupun ada keterbatasan dalam hal durasi maupun properti (anak). Nilai inilah yang selayaknya menjadi prioritas dalam kelangsungan hidup pernikahan, karena nilai merupakan hal internal, sementara objek-objek yang lain hanyalah merupakan hal eksternal. Jadi buat apa pernikahan itu harus mengorbankan kepentingan internal, hanya untuk mengejar hal-hal yang bersifat eksternal? Untuk para pasangan yang memiliki keterbatasan regenerasi, tampak bahwa jauh lebih bijak dan bahagia untuk tetap fokus kepada nilai, alias pasangan sendiri, daripada mengurusi objek-objek eksternal yang sesungguhnya hanya bersifat optional! Dengan demikian, pernikahan itu tidak akan sampai terjajah oleh fungsi-fungsi maupun kepuasan temporer yang datang dari objek-objek eksternal tersebut, melebihi perhatian kepada nilai/pasangan yang bersifat permanen.

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi, bahwa sesungguhnya keterbatasan yang paling memprihatinkan dalam suatu pernikahan bukanlah tidak bisa memiliki anak, tetapi ketika salah seorang dari pasangan menggunakan objek-objek eksternal dengan terlalu mubazir untuk membatasi kelayakan kualitas dari nilai/pasangan yang sesungguhnya!***

Medan, 23 Juli 2011

Tuesday, April 05, 2011

Houtman Zainal Arifin, Sang OB yang Berhasil Menjadi Vice President Citibank Indonesia



Kisah suksesnya dimulai sekitar tahun 60-an, ketika Houtman memulai kariernya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, bergelut dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah untuk menjajakan dagangannya.

Namun, kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Pada suatu waktu, ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaraan-kendaraan mewah yang berseliweran di salah satu ruas jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut terlihat berpakaian rapi, keren dan berdasi. Sontak terbersit dalam benak Houtman remaja untuk bisa menjadi seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad ditanamkan dalam hatinya.

Tekad yang kuat dari Houtman telah mendorongnya ingin segera mengubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka dengan pasti dia akan segera mengirimkan surat lamaran kerja. Untuk membiayai setiap lamaran kerjanya, Houtman pun menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan.

Sampai akhirnya, Houtman pun mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di dunia, The First National City Bank (Citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang office boy, sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, WC, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Meski begitu, Houtman tetap bangga dengan jabatannya. Dia tidak pernah menampik pekerjaan. Dia pun menerima jabatan tersebut sambil memendam cita-citanya yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasibnya akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi seseorang yang berbeda.

Sebagai office boy, Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Dia bahkan rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai, Houtman selalu berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya-tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah-istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin pikiran yang terlintas dalam benak pegawai adalah, ”Ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja.” Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit menjadi familiar dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dan lain-lain.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photocopy). Ketika itu mesin fotokopi masih sangat langka. Hanya perusahaan-perusahaan tertentu yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap jam 4 sore setelah pekerjaannya selesai, Houtman sering mendatangi mesin tersebut dan meminta kepada petugas fotokopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin fotokopi, dan tanpa disadarinya pintu pertama bagi masa depannya pun terbuka. Pernah suatu kali petugas mesin fotokopi itu berhalangan kerja dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya. Sejak saat itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Petugas Fotokopi.

Menjadi tukang fotokopi tentu merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Di sela-sela kesibukannya Houtman terus berusaha menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman sempat tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf balik tertegun terhadapnya. “Bener nih lu mau bantuin gua?” Begitulah Houtman mengenang ucapan sang staf dulu. “Iya, bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu,” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya nggak boleh salah. Kalau salah tanggung jawab lu, bisa dipecat lo,” sang staf mewanti-wanti dengan keras.

Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen dan tugas dia adalah membubuhkan stempel pada cek, bilyet giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom dan tidak boleh menyimpang atau keluar dari kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekadar mengecap, tetapi dia juga membaca dan mempelajari seluruh dokumen yang melewati genggaman tangannya. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit mulai memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Pengetahuannya inilah yang kelak membawa Houtman sampai kepada jabatan yang tidak pernah diduganya sama sekali.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staf dan atasannya, sehingga para staf pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah seorang lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai bank menjadi berita luar biasa yang heboh dan kontroversial. Orang-orang berpikir bagaimana bisa seorang OB menjadi staf, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak berkomitmen. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “Jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga,” begitu rekan sesama OB Houtman menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat tekadnya goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya bantuanlah yang bisa dikontribusikan oleh Houtman, karena materi tidak dia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru, sehingga karier Houtman melesat bak anak panah meninggalkan rekan sesama OB, bahkan staf yang pernah mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian, sejak Houtman masuk sebagai office boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu President Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB namun pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan yang pernah diembannya, seperti menjadi staf ahli Citibank untuk regional Asia Pasifik, menjadi penasihat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.


Houtman bersama dengan istri tercinta

Kisah Houtman telah membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dicapai selama yang bersangkutan memiliki semangat dan kemauan untuk belajar dan berusaha. Banyak orang yang justru menganggap bahwa keberhasilan maupun jabatan bergengsi akan datang seiring dengan masa kerja yang dijalaninya. Ini adalah persepsi umum yang banyak hinggap di kalangan pekerja di Indonesia. Jelas, persepsi ini adalah salah, karena masa kerja tidak akan menjamin apa-apa, karena waktu itu ada bukan untuk sekadar dipercaya, tetapi untuk diolah.

Dunia terus berubah dengan berbagai perkembangannya. Jika tidak ada pembelajaran, maka percayalah bahwa Anda akan tertinggal. Asumsikan saja jika saat ini seseorang itu pintar dan cakap dengan segudang kemampuan yang dimilikinya, tetapi apakah untuk waktu 5 tahun yang akan datang, dengan kemampuannya yang sekarang orang itu masih layak untuk disebut pintar? Tentu tidak, karena kemampuan dan wawasannya sudah tidak relevan dengan perubahan yang terjadi.

Begitupun, masih banyak orang yang gengsi dalam bertanya maupun belajar. Ada yang merasa bahwa dengan bertanya kepada orang lain, maka dia akan tampak bodoh dan disepelekan. Ada pula yang enggan untuk berbagi ilmu karena takut dirinya akan tersaingi. Tetapi demi sebuah cita-cita yang memang Anda idamkan, apakah Anda masih layak untuk peduli terhadap hal-hal emosional seperti ini?

Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika Anda serius untuk belajar dan berusaha, tetapi jangan berharap sesuatu akan terjadi jika Anda sama sekali tidak melakukan sesuatu, alias hanya menunggu mukjizat terjadi. Albert Einstein telah mengatakan, “Definisi dari kegilaan adalah melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.” Jadi putuskan sekarang, jalur mana yang akan Anda pilih? Repeating or improving?

Last quote dari saya, “People who do not learn are definitely people who will not earn in return.” Salam sukses!***

Medan, 05 April 2011

Wednesday, March 30, 2011

Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta Rupiah untuk Anak Yatim Piatu



Namanya Bai Fang Li. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang menaiki becaknya. Mengantarkan ke mana saja tempat yang diinginkan pelanggannya, dengan imbalan uang sekadarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Aktivitasnya sudah dimulai jam enam pagi, terlebih dulu bersekutu dengan Tuhan dalam doa. Setelah itu, maka pengabdiannya terhadap jasa pengantaran pun dimulai di atas becaknya. Seharian mengayuh, biasanya dia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena dia adalah pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan dia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itulah, banyak orang yang menggunakan jasanya justru membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil (bahkan tergolong ringkih) itu, dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.


Bai Fang Li tinggal di sebuah gubuk reot yang nyaris mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itu pun bukan miliknya, karena dia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat di mana dia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil di mana dia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat. Di ruang itu juga dia menerima tamu yang butuh bantuannya. Di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah di mana biasa dia makan, serta ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam mulai turun.

Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Orang-orang hanya tahu bahwa dia adalah seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah dia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya dia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya dia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan ini juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.


Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika dia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan menjinjing beban berat di pundaknya, namun anak itu tetap semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, dia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu bergumam. Mungkin dia sedang mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali Li memperhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian dia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, lalu mengais-ngais seluruh isi yang ada, dan sewaktu dia menemukan sepotong roti kecil yang kotor, dia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah-olah itu adalah makanan yang turun dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, lalu dia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Dia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. Pada akhirnya, Li menemukan jawabannya.

“Uang yang saya dapat adalah untuk dibelikan makanan adik-adik saya,” jawab anak itu.

“Orang tuamu di mana?” tanya Li.

“Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah kembali lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil,” sahut anak itu.

Li meminta anak itu mengantarnya melihat kedua adik anak lelaki yang bernama Wang Ming itu. Hati Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Ming, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu tampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang-camping.

Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu peduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah. Jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga saja mereka kesulitan.

Li kemudian membawa ketiga anak itu ke yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin . Pada pengurus yayasan itu Li mengatakan bahwa setiap hari dia akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak, dan juga mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam enam pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya dia sumbangkan ke yayasan yatim piatu itu, untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Dia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, di tengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila dia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang terkoyak dengan kain yang berbeda warna. “Mhmmm… tapi masih cukup bagus…,” gumamnya senang.

Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa peduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah terpaan badai salju yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang terasa sangat menyengat tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa dia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa peduli dengan dirinya sendiri.

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Dia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Dia juga tidak pernah tahu siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapi dalam suatu kotak dan menyerahkannya ke sekolah Yao Hua.

Dia berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan,” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.


Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun. Dia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, di sepanjang hidupnya dia telah menyumbangkan uang sebesar RMB 350,000 (dengan asumsi kurs Rp 1,300, setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.***

Medan, 30 Maret 2011

Saturday, March 26, 2011

Filosofi Cinta dan Pernikahan



Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, "Apa itu cinta? Bagaimana aku menemukannya?”

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?"

Plato menjawab, "Karena sesuai perkataan Guru, aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.”

“Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatang pun pada akhirnya."

Gurunya kemudian menjawab, "Jadi ya, itulah cinta."

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu pernikahan? Bagaimana aku bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab, "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon itu bukanlah pohon yang segar/subur, dan juga tidak terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir seluruh ladang, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya, itulah pernikahan."



Refleksi:

Banyak orang yang belum betul-betul memahami arti cinta dan pernikahan secara memadai. Bahkan tidak sedikit orang yang menyamakan kedua hal tersebut, padahal keduanya memiliki konsep dan tujuan yang berbeda. Alan King—seorang komedian terkenal dari AS—mengatakan, "If you want to read about love and marriage, you've to buy two separate books." Ini menunjukkan bahwa cinta dan pernikahan butuh pendekatan yang berbeda, baik dari segi pemahaman maupun pelaksanaan nantinya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta dan pernikahan adalah dua fase yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Namun pada kenyataannya, justru manusia melewati fase percintaan dengan frekuensi yang jauh lebih banyak dari pernikahan. Sekilas jenguk, kesannya seolah-olah cinta itu adalah sesuatu hal yang (lebih) mudah untuk dijalani. Pernyataan ini bisa saja benar, namun bisa juga salah, tergantung alasan orang yang menjalaninya. Terlepas dari semua itu, ada satu alasan yang dapat menjelaskan kesenjangan frekuensi antara cinta dan pernikahan dengan amat sangat tepat, yaitu cinta dapat dijalani dengan validasi yang lebih sederhana daripada pernikahan. Bahkan, bisa saja tanpa diikuti validasi sama sekali.

Sementara itu, pernikahan sendiri memiliki lebih banyak dampak sosial (social effect) yang mengikutinya. Dampak sosial itu dapat mempengaruhi persepsi keluarga, tetangga bahkan lingkungan secara umum. Di samping itu, pernikahan juga memiliki dasar hukum yang valid. Tapi apakah karena prosedur pernikahan yang memang lebih ribet, lantas membuat manusia menjadi mengabaikan esensi hubungan itu sendiri?

Dari kisah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa cinta dan pernikahan itu sesungguhnya adalah dua entitas yang berbeda. Cinta bisa saja menjadi dasar dari pernikahan, tetapi itu bukanlah satu-satunya tujuan akhir. Sesekali, cinta dapat menjadi suatu hal yang labil, karena cinta sering diposisikan sebagai eksperimen. Itulah sebabnya, Plato bereksperimen dengan menjelajahi seluruh ladang gandum, dengan harapan akan mendapatkan kepuasan yang jauh lebih tinggi. Namun gurunya yang bijak telah menyadari ini dan sengaja mengantisipasi muridnya dengan melarangnya untuk berbalik ke belakang. Maka bayangkanlah, apa jadinya jika seluruh eksperimen itu tidak dapat dibalik atau diulang? Konsekuensinya adalah kehampaan.

Menurut penjasalan yang tergabung dalam kisah di atas,cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika muncul pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tiada sesuatu pun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Pernikahan adalah kelanjutan dari cinta, adalah proses mendapatkan kesempatan. Ketika Anda mencari yang terbaik di antara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan pernikahan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Ada ungkapan bahwa menikah dengan seseorang yang Anda cintai sangatlah indah, tetapi akan lebih menakjubkan jika Anda mencintai orang yang Anda nikahi. Ungkapan ini menggambarkan bahwa pernikahan itu bukan sebuah vonis. tetapi sebuah kesempatan untuk "menikmati" penyesuaian. Ya, setiap penyesuaian mesti "dinikmati", bukan untuk diperhitungkan! Dengan demikian, pernikahan akan jauh dari unsur eksperimen, yang berpotensi membuat Anda melakukan pengulangan. Namun, jika Anda sudah memahami ini sejak Anda mulai menjalani yang namanya cinta, maka percayalah, hubungan Anda akan lebih dari sekadar formalitas.

Semoga review ini bermanfaat bagi Anda semua. Salam metta!***

Medan, 26 Maret 2011