"Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan" — David Tandri

Saturday, August 18, 2007

Bumi Manusia dan Diversitas Peradabannya



Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan : II, Juni 2007
Terbitan I : September 2005
Ukuran buku : 20 cm x 14 cm
Tebal : 535 halaman

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” – Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dan pernah menjadi kandidat pemenang nobel sastra, dengan segala keterbatasan justru menelurkan masterpiece-nya ini ketika ia berada di penjara pulau Buru, tanpa proses peradilan sama sekali. Sebelum roman ini dikerjakan dalam bentuk tulisan, oleh penulis terlebih dulu diceritakan secara lisan kepada teman-temannya di Buru. Ini membuktikan bahwa Pram bukan sekedar menulis dan berjuang dalam imajinasi semata, tetapi ini merupakan hasil dari pendalaman dan penguasaan akan seluk-beluk sejarah dan kondisi pada masanya secara matang.

Novel Bumi Manusia—yang tergabung dalam Tetralogi Buru bersama Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca—mengambil suasana akhir abad ke-19 yang menunjukkan ketidakmampuan pergolakan nasional menghadapi dominasi bangsa Eropa di zaman kolonial. Bidang hukum, teknologi dan ilmu pengetahuan Eropa yang dielu-elukan oleh bangsa sendiri itu menjadi kuasa dan kekuatan penjajahan. Sementara golongan nasional yang disebut pribumi tenggelam dalam ketaatan yang terpaksa karena tendensi sosial yang menempatkan pribumi pada golongan marginal.

Namun keagungan Eropa yang merasuk paradigma masyarakat saat itu dengan mudah dibantah oleh Pram dalam roman klasik ini. Pram dengan lugas menunjukkan kebusukan gaya hidup dan pemikiran Eropa di balik kehebatan pengakuan mereka. Oleh Pram, Eropa ditempatkan sebagai bangsa yang munafik, sedangkan dari sisi pribumi dimunculkan keberanian untuk melawan, meskipun yang menjadi ending selalu sudah menjadi kepastian untuk ditebak: kekalahan—dengan catatan kalah secara sehormat-hormatnya.

Roman ini dimulai dengan percintaan antara Minke (baca: Mingke)—seorang keturunan priyayi—dengan Annelies yang sama-sama berasal dari golongan pribumi. Percintaan mereka yang dilakukan di balik layar itu dengan mudah disetujui oleh Nyai Ontosoroh alias Sanikem (ibu Annelies) yang adalah gundik dari Herman Mellema, Tuan Besar Kuasa (Tuan Administratur) yang menjadi atasan ayah Sanikem, jurutulis Sastrotomo. Kehidupan Sanikem bisa berakhir sedemikian tragis adalah karena ulah ayahnya yang mengimpikan jabatan sebagai jurubayar di kantor namun tidak terpenuhi, sehingga nekat menjual anaknya sendiri yang baru berumur empat belas tahun dengan harga dua puluh lima gulden. Sejak itulah, nama Sanikem tidak dipakai lagi dan berganti menjadi Nyai Ontosoroh. Karena dendam dan benci yang teramat sangat kepada ayah dan ibunya yang sama sekali tidak dapat membela dia, akhirnya Nyai Ontosoroh pun tidak mau lagi mengakui mereka sebagai orang tua.

Meski Nyai Ontosoroh adalah pribumi, tetapi dia tidak pernah malu bila dipanggil Nyai. Malah dari Tuannyalah Nyai Ontosoroh banyak belajar tentang ilmu-ilmu perkantoran dan ilmu pengetahuan lainnya sehingga tak pelak, meski dia adalah seorang gundik namun kepandaiannya membuat dia tidak kelihatan seperti pribumi. Kemampuan Nyai inilah yang begitu dikagumi Minke.

Percintaan mereka yang manis lama kelamaan mulai mendapat masalah. Apalagi kalau bukan cibiran dari masyarakat. Minke dinilai melakukan perbuatan mesum dengan tinggal serumah dan menjalin hubungan dengan kaum Nyai yang oleh masyarakat pada masa itu sudah dicap jelek sebagai biang kelicikan penghisap harta suami. Lebih kejam lagi, kejadian ini malah dengan sengaja dibeberkan di depan publik sekolah H.B.S. oleh Robert Suurhof, teman Minke yang ternyata diam-diam juga menyukai Annelies. Kecemburuan Suurhof mengantarkan sassus yang menjatuhkan martabat Minke di depan teman-teman, guru dan juga direktur sekolah sehingga akhirnya dia pun dipecat dari sekolah.

Masalah makin pelik dengan matinya Tuan Mellema di rumah plesiran Babah Ah Tjong, tetangga mereka sendiri, ditambah lagi dengan hilangnya Robert Mellema, abang kandung dari Annelies. Suatu hari tanpa sepengetahuan Nyai Ontosoroh, ternyata Tuan Mellema juga memiliki istri gelap yang sah. Hal inilah yang akhirnya disadari Nyai sebagai penyebab Tuan Melemma enggan memperistrinya secara sah.

Pada akhirnya, kejadian ini menjadi konflik dan klimaks dari roman ini. Ketika hukum Belanda mulai bertindak (oleh Pengadilan Amsterdam), segala hak dan jerih payah Nyai direbut begitu saja hanya bermodalkan surat-surat resmi yang dikendalikan orang dari bangsa sendiri yaitu Ir Maurits Mellema, anak hasil perkawinan Tuan Mellema dengan istri yang sah. Sebagai bangsa pribumi jelas pihak Nyai tidak mampu memberikan sedikit pun perlawanan, kecuali terbatas hanya pada tulisan-tulisan protes yang dilancarkan Minke di media massa dengan nama Max Tollenaar. Ancaman dan perlawanan rakyat tidak berpengaruh apa-apa terhadap keputusan pengadilan. Pengacara habis tingkah. Tak pelak, hanya tinggal Minke dan Nyai yang harus melawan keputusan itu sendiri, mempertahankan Annelies dan juga harta benda perusahaan yang sesungguhnya sejak peninggalan Tuan Melemma selama 5 tahun ini Nyai Ontosoroh yang mengurusi dan membangunnya.

Dalam hati mereka, sesungguhnya sudah muncul suatu hasil yang pasti didapat, sekeras apa pun perlawanan yang mereka jalankan: yaitu kekalahan. Penyebabnya tak lain adalah karena mereka hanya pribumi yang oleh bangsa Eropa ditakdirkan sebagai budak tanpa syarat! Pada akhirnya, mereka memang tetap kalah, tanpa bisa berbuat apa-apa. Seperti kejadian Pram yang langsung diseret tanpa pernah mendapat penjelasan apa-apa dari pengadilan.

Dalam menulis roman ini, nampak betul kematangan Pram dalam menyuguhkan wajah sejarah. Konflik menajam yang sengaja ditempatkan di akhir novel justru menjadi semacam penegas ketidakberdayaan kaum pribumi sampai akhir perjuangan. Kemunafikan Eropa sebagai bangsa agung justru dipaparkannya lewat dialog-dialog milik Nyai Ontosoroh yang adalah seorang pribumi, gundik lagi, namun berpengetahuan luas. Ini suatu cara yang cerdik dari Pram untuk menunjukkan kebijaksanaan pada kaum pribumi, melebihi bangsa Eropa yang menafikan pribumi justru lewat cara-cara yang membantah keagungan mereka sendiri.

Pribumi dianggap tiada dalam keberadaan. Sebaliknya mereka adalah raja. Namun dari salah satu paradigma tentang keagungan mereka saja sudah muncul ironi memalukan. Jika memang Eropa punya segala sesuatu dan pribumi tiada berpunya, lalu kenapa mereka justru datang ke tanah pribumi untuk mencuri sumber alam? Dalam soal hukum, bagaimana mungkin pribumi bisa diadili dengan hukum Belanda yang jelas-jelas hanya akan membela kepentingan bangsa mereka sendiri? Ironi lainnya, bila keputusan hukum sudah mutlak dan tidak dapat diubah-ubah lagi, apa pula guna pengadilan? Seperti yang diungkapkan Minke dalam salah satu pernyataannya: bagaimana bisa manusia hanya ditimbang dari surat-surat resmi belaka, dan tidak dari wujudnya sebagai manusia? (hal 507-508). Indikasi ini bahkan masih terjadi sampai sekarang, ketika hukum lebih mengutamakan data daripada fakta, padahal data bisa diciptakan!

Mungkin Pram sengaja memilih kisah cinta sebagai sentral cerita untuk menonjolkan kemurnian hak kaum pribumi sehingga perlakuan tidak adil dari Eropa terasa semakin tidak beralasan. Bumi manusia yang ada pada masa itu hanya berbentuk perebutan, penindasan dan diskriminasi. Semua itu hanya berawal dari satu penyebab, yaitu keadilan yang tidak ditanamkan sejak dalam pikiran sehingga perbuatan yang muncul menjadi berbentuk memojokkan.

Satu kesilapan yang mungkin dibuat Pram adalah perihal Minke yang berzinah dengan Annelies sebelum resmi nikah. Secara tidak langsung sesungguhnya ini sudah menjadi sebuah deviasi yang memperburuk citra kaum pribumi yang diwakili Minke dan Annelies. Hanya saja, itu tidaklah merusak entitas cerita. Lagipula, kejadian itu hanya sebuah potret lain dari sifat purba peradaban manusia yang tidak mungkin dihilangkan dan malah semakin memperkaya makna bumi manusia secara individu.

Setidak-tidaknya, Pram sudah mewakili kaum pribumi berbicara di kancah internasional dengan penerbitan Bumi Manusia yang menjamah hingga luar negeri dan mencapai 34 edisi. Sekaligus menjadi saksi sejarah, ketika sastra masa kini sudah mulai melupakan episode terpenting dalam usaha pergerakan kaum pribumi mencapai kehormatannya.***

Medan, 18 Agustus 2007